Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta menggambarkan eskalasi konflik di Timur Tengah saat ini sebagai sebuah “spiral krisis”. Ia menilai situasi geopolitik bergerak cepat dan sulit diprediksi, namun tetap menyimpan optimisme besar bagi peluang kemerdekaan Palestina.
Dalam pernyataannya, Anis menegaskan pemerintah Indonesia terus menempuh jalur diplomasi. Menurutnya, keterlibatan Indonesia di berbagai forum internasional ditujukan untuk mencari celah sekecil apa pun guna menghentikan kekerasan di Gaza.
“Niat dasar dari semua keterlibatan ini adalah mencari semua celah untuk menghentikan genosida di Gaza. Mencari semua celah untuk menghentikan pembantaian saudara-saudara kita, dan membantu mereka dengan segala hal yang mungkin kita lakukan,” ujar Anis di Gedung Asrama Haji, Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Anis menjelaskan, krisis yang sudah meletus dapat bergerak melingkar seperti spiral dan menciptakan pusaran yang menyeret berbagai pihak ke dalam dampaknya. “Ini semua bagian krisis seperti badai, angin puting beliung, membuat semua orang yang ada disitu masuk dalam putarannya,” katanya.
Pernyataan Anis sejalan dengan pandangan Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid yang menilai bulan Ramadan secara historis kerap menghadirkan harapan bagi kemenangan. Ia mencontohkan sejumlah kemenangan besar dalam sejarah Islam yang terjadi pada bulan suci, meski dalam kondisi kalah dari sisi jumlah pasukan maupun logistik.
“Ramadan memberikan kita harapan. Jika Allah berkenan dan kita memanfaatkan momentum yang benar, maka potensi kemenangan itu besar,” ujar Hidayat.
Hidayat juga menyoroti perkembangan diplomasi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dengan menyebut lebih dari 153 negara telah mendukung kedaulatan Palestina. Selain itu, ia menilai sikap negara-negara di Asia Tenggara terhadap isu Palestina kini semakin terbuka.

