BERITA TERKINI
UM Gelar Seminar Kebangsaan, Dorong Peran Kampus Merawat Demokrasi dan Integritas Akademik

UM Gelar Seminar Kebangsaan, Dorong Peran Kampus Merawat Demokrasi dan Integritas Akademik

JAKARTA — Di tengah dinamika politik internasional dan domestik yang terus bergejolak, perguruan tinggi dinilai memikul tanggung jawab yang melampaui fungsi mencetak lulusan siap kerja. Universitas Negeri Malang (UM) merespons situasi tersebut dengan menggelar Seminar Kebangsaan bertajuk “Merawat Republik Lewat Ruang Akademik”, yang diarahkan sebagai ruang refleksi peran akademisi dalam menjaga marwah demokrasi Indonesia.

Dalam seminar itu, UM menekankan pentingnya ruang akademik sebagai benteng demokrasi. Sejumlah tantangan yang disoroti antara lain menguatnya politik identitas, penyebaran disinformasi secara masif, serta menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi formal—fenomena yang dipandang sebagai sinyal peringatan bagi keberlangsungan republik.

UM juga menegaskan kampus semestinya hadir sebagai “menara air” yang memberi kesejukan dan solusi, bukan “menara gading” yang terisolasi dari realitas sosial. Karena itu, ruang akademik didorong tetap netral dan bebas dari intervensi politik praktis, namun aktif menyampaikan kritik konstruktif berbasis data dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Salah satu pokok pembahasan seminar adalah perlunya redefinisi nasionalisme pada era krisis demokrasi global. Jika pada masa lalu nasionalisme kerap dipahami sebagai perjuangan fisik melawan penjajah, maka dalam konteks kontemporer nasionalisme dipandang perlu bertransformasi menjadi semangat menjaga integritas dan etika dalam bekerja.

Bagi akademisi dan mahasiswa, nasionalisme modern ditegaskan melalui penolakan terhadap plagiarisme, manipulasi data, serta berbagai bentuk penyimpangan intelektual. Integritas akademik dipandang sebagai wujud konkret cinta tanah air. Tanpa integritas, ilmu pengetahuan dikhawatirkan berubah menjadi alat pembenaran kepentingan kekuasaan yang pada akhirnya melemahkan sendi-sendi demokrasi.

Seminar tersebut juga menekankan bahwa nasionalisme yang sehat bersandar pada nalar kritis. Peserta diajak memahami bahwa menjadi warga negara yang baik berarti berani mempertanyakan ketidakadilan dan mempertahankan kebenaran, termasuk ketika berhadapan dengan arus populer yang menyesatkan.

Selain itu, krisis demokrasi di berbagai negara disebut memberi pelajaran bahwa sistem yang tampak mapan pun dapat goyah ketika pilar etika melemah. Melalui forum ini, UM berupaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menyiapkan generasi yang tidak hanya kuat secara kognitif, tetapi juga kokoh dalam karakter.

Para pembicara memaparkan bahwa ancaman terhadap republik kerap hadir secara halus melalui pengikisan nilai kejujuran. Karena itu, penguatan karakter di lingkungan kampus disebut menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Pendidikan tinggi diharapkan melahirkan intelektual yang memiliki keberanian moral untuk mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan.

Rektor UM, dalam pesannya, menekankan peran strategis universitas sebagai mitra kritis pemerintah sekaligus pelayan masyarakat. Upaya “merawat republik” disebut bukan pekerjaan sesaat, melainkan proses berkelanjutan yang melibatkan seluruh sivitas akademika.

Penyelenggaraan seminar ini diharapkan memicu diskusi lanjutan hingga tingkat fakultas dan program studi, dengan tujuan membangun ekosistem pendidikan yang kondusif bagi tumbuhnya integritas. Dengan integritas akademik yang kuat, perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan inovasi dan pemikiran yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa, sekaligus menjadi benteng dalam menghadapi krisis demokrasi global.

Seminar ini menutup rangkaian pesannya dengan penegasan bahwa masa depan Republik Indonesia sangat bergantung pada kemampuan ruang akademik menjaga kejujuran intelektual. Nasionalisme dan integritas dipandang sebagai dua hal yang saling terkait, sekaligus fondasi untuk memastikan demokrasi berjalan pada rel yang benar demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.