MALANG – Permasalahan lingkungan, termasuk krisis air, disebut tidak lagi sebatas isu nasional, melainkan telah menjadi persoalan global. Di tengah sebagian masyarakat dunia masih dapat mengakses air dengan mudah, sebagian lainnya belum memperoleh akses air yang layak dan aman. Dalam laporan yang disampaikan pada kegiatan tersebut, hampir 96 persen ekosistem akuatik di dunia dilaporkan mengalami kerusakan, terutama di kawasan Eropa.
Wakil Rektor IV Universitas Brawijaya (UB), Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc., menegaskan isu air tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menjadi penentu arah peradaban ke depan. Ia menyebut lebih dari dua miliar orang—atau sekitar satu dari lima penduduk dunia—masih belum beruntung mendapatkan akses air yang cukup.
“Berbicara tentang air, artinya bukan sekadar isu lingkungan, tetapi membicarakan peradaban,” ujarnya dalam Kuliah Tamu Internasional memperingati Hari Hemat Air Sedunia di Gedung Auditorium Brawijaya, Senin (11/5/2026).
Menurut Andi, ada sejumlah faktor yang membuat isu air belum dipandang sebagai masalah serius oleh banyak pihak. Salah satunya, kerusakan lingkungan, terutama yang terkait air, kerap terjadi perlahan sehingga dampaknya baru disadari bertahap. Padahal, persoalan tersebut terus berlangsung dan menumpuk, bahkan ketika sudah memasuki tahap yang sulit diatasi.
“Andaikan kerusakan air cepat terlihat, pasti response publik juga cepat. Kadang kita terlambat menyadari disaat kondisi tersebut semakin kritis,” tambahnya.
Ia juga menyoroti bahwa dampak nyata krisis air paling dirasakan oleh kelompok masyarakat marginal. Di sisi lain, kerusakan lingkungan justru banyak dipicu pihak-pihak yang memiliki akses lebih besar terhadap ekonomi dan modal, yang ia sebut sebagai dampak distributif.
Di tengah kompleksitas tersebut, UB menyatakan mengambil langkah strategis untuk mendorong perkembangan air dunia (World Water Development) 2026 sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya investasi peradaban melalui pengelolaan air. Sebagai perwakilan Indonesia, misi ini disebut turut berkolaborasi dengan Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO, sekaligus memperingati Hari Air Sedunia pada 19 Maret.
Melalui kampanye bertajuk “Sustainable Ecohydrological Approach for Coastal Resources Management”, UB mengintegrasikan upaya tersebut melalui kegiatan green campus serta memasukkannya ke dalam kurikulum.
“Kita (kampus) membawa pengetahuan ke kondisi lapangan di masyarakat, dan tentunya kelestarian air menjadi tantangan utama,” ujarnya.
Andi menekankan, pembahasan mengenai air perlu menjadi prioritas jika masyarakat ingin hidup sejahtera dan memastikan ekosistem dapat berjalan sebagaimana mestinya.