Universitas Brawijaya (UB) mendorong isu krisis air untuk menjadi bagian dari gerakan pendidikan sekaligus kolaborasi global. Dorongan ini disampaikan Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Internasionalisasi UB, Prof. Andi Kurniawan, dalam peringatan World Water Day 2026 yang dirangkaikan dengan “Minggu Hemat Air Sedunia” di Malang, Senin (11/5/2026).
Prof. Andi menilai persoalan air kini tidak lagi sebatas isu lingkungan, melainkan telah menjadi tantangan kemanusiaan berskala global. Ia merujuk data internasional yang menyebut lebih dari dua miliar penduduk dunia masih belum memiliki akses air bersih yang memadai.
Di hadapan mahasiswa, ia mengatakan kemudahan memperoleh air bersih tidak dialami semua orang. “Kalau hari ini kita masih bisa minum air bersih dengan mudah, berarti kita lebih beruntung. Karena satu dari lima orang di dunia belum memiliki akses air yang layak,” ujarnya.
Ia menambahkan, hampir seluruh ekosistem perairan dunia kini mengalami tekanan serius. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat isu air perlu dipandang sebagai persoalan lintas sektor yang menuntut perhatian bersama.
Prof. Andi juga menjelaskan tiga faktor yang kerap membuat persoalan lingkungan, khususnya air, terlambat ditangani. Pertama, kerusakan lingkungan terjadi secara perlahan sehingga dampaknya tidak selalu langsung terlihat. Kedua, dampak baru terasa saat kondisi sudah parah dan memerlukan biaya pemulihan besar. Ketiga, dampaknya paling dirasakan kelompok rentan, sementara pihak yang memiliki akses ekonomi lebih besar justru disebut menjadi penyumbang kerusakan terbesar.
Ia mencontohkan, di sejumlah tempat masyarakat harus berjalan berkilo-kilometer untuk memperoleh air bersih. Situasi itu membuat waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar tersita demi memenuhi kebutuhan dasar.
Dalam rangkaian kerja sama dengan UNESCO dan Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO, UB juga mendapat kepercayaan untuk menerjemahkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang perkembangan sumber daya air dunia. Hasil terjemahan tersebut telah dikirim ke Paris dan diluncurkan bersamaan dengan versi bahasa resmi UNESCO lainnya pada 19 Maret 2026.
“Kami sangat bangga karena UB dipercaya mewakili Indonesia untuk menerjemahkan laporan ini. Prosesnya sangat ketat karena tidak boleh ada satu bagian pun yang meleset dari makna aslinya,” kata Prof. Andi.
Ia menyebut tema krisis air akan diintegrasikan dalam penguatan kurikulum, riset, hingga program pengabdian masyarakat. UB menilai kesadaran lingkungan perlu menjadi bagian dari civic literacy atau literasi kewargaan modern. Karena itu, berbagai persoalan lingkungan, termasuk krisis air, mulai dimasukkan dalam pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan living laboratory.
“Kami ingin isu lingkungan tidak hanya menjadi diskusi sesaat, tetapi terintegrasi dalam kurikulum dan menjadi bagian dari solusi nyata yang dibangun kampus,” ujarnya.
Menurut Prof. Andi, langkah tersebut juga merupakan implementasi konsep “kampus berdampak” yang tengah dikembangkan UB, yakni menghadirkan ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan riil di masyarakat. Salah satu wujudnya dilakukan melalui penguatan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak dalam upaya pelestarian sumber mata air di Malang Raya.
Ia menyampaikan UB telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Batu, Pemerintah Kota Malang, serta sejumlah mitra lain untuk mendukung program konservasi air melalui riset, pengabdian masyarakat, dan program tanggung jawab sosial perusahaan.