Eskalasi konflik di Timur Tengah dilaporkan mulai berdampak langsung pada sektor energi global. Kerusakan berat pada fasilitas milik QatarEnergy akibat serangan balasan Iran diproyeksikan melumpuhkan sebagian kapasitas ekspor gas alam cair (LNG) Qatar dan mengguncang rantai pasokan energi untuk pasar Eropa dan Asia dalam beberapa tahun ke depan.
CEO QatarEnergy Saad al-Kaabi menyatakan bahwa ia sebelumnya telah secara rutin memperingatkan para eksekutif perusahaan mitra serta Menteri Energi Amerika Serikat mengenai risiko kerusakan pada fasilitas minyak dan gas apabila konflik dengan Iran meningkat. Setelah serangan terhadap ladang gas South Pars milik Iran, serangan balasan disebut mengenai berbagai infrastruktur energi di kawasan Teluk, dengan dampak terbesar dialami kompleks Ras Laffan milik QatarEnergy yang nilai pembangunannya mencapai US$ 26 miliar.
Dari pihak Amerika Serikat, Gedung Putih menyampaikan bahwa Presiden Donald Trump dan tim energinya telah mengantisipasi potensi gangguan jangka pendek pada pasokan minyak dan gas selama operasi di Iran berlangsung. Sementara itu, mitra QatarEnergy seperti ConocoPhillips menyatakan komitmennya membantu proses pemulihan, sedangkan ExxonMobil menolak berkomentar. Kaabi juga mengakui tidak mendapat peringatan awal terkait serangan di ladang South Pars, yang merupakan bagian dari ladang gas raksasa yang membentang di wilayah perairan Iran dan Qatar.
Serangan tersebut menyebabkan sebagian kapasitas ekspor hidrokarbon dan produk sampingan Qatar menjadi nonaktif. Penurunan 17% kapasitas LNG disebut terjadi karena hancurnya unit pendingin utama (cold boxes) secara total pada dua dari 14 train LNG di kompleks Ras Laffan. Kerusakan struktural pada unit krusial itu diperkirakan akan memengaruhi pengiriman LNG secara global hingga lima tahun ke depan.
QatarEnergy juga disebut belum melakukan asesmen mendalam mengenai apakah kerugian terkait perang ini akan ditanggung oleh asuransi.
Di sisi lain, ExxonMobil sebagai mitra utama QatarEnergy memiliki porsi saham minoritas yang signifikan pada dua fasilitas train LNG bernilai miliaran dolar yang kini nonaktif akibat serangan.
Secara operasional, evakuasi cepat terhadap 10.000 pekerja lepas pantai dalam waktu 24 jam dilaporkan berhasil mencegah korban jiwa maupun cedera. Namun, penghentian operasional ini menimbulkan konsekuensi jangka panjang terhadap agenda ekspansi perusahaan.
Proyek perluasan North Field, yang sebelumnya dirancang untuk meningkatkan kapasitas pencairan gas dari 77 juta menjadi 126 juta ton per tahun pada 2027, dipastikan tertunda. Seluruh proses pengerjaan disebut terhenti total karena kekosongan pekerja di lapangan, dan diperkirakan mundur beberapa bulan hingga lebih dari satu tahun.
Menurut Kaabi, pemulihan tahap produksi baru dapat dimulai kembali setelah konflik mereda. Setelah itu, dibutuhkan setidaknya tiga hingga empat bulan pasca-konflik untuk mencapai kapasitas pemuatan secara penuh.
Kaabi memperingatkan dampak berantai gangguan ini dapat meluas dan berpotensi memundurkan ekonomi kawasan Teluk hingga 10 sampai 20 tahun. Sejumlah indikator ekonomi seperti pariwisata, operasional maskapai penerbangan, aktivitas logistik pelabuhan, hingga tingkat pengeluaran pemerintah diperkirakan melambat drastis seiring hilangnya pendapatan dari sektor minyak dan gas.

