Sebuah konferensi ilmiah bertajuk “Pham Van Dong dan Hubungan Luar Negeri – Diplomasi Vietnam” digelar dengan dihadiri lebih dari 100 delegasi dari berbagai unsur, mulai dari mantan pimpinan Kementerian Luar Negeri, pimpinan Departemen Luar Negeri Komite Sentral, perwakilan sejumlah komite sentral, kementerian dan lembaga, lembaga penelitian, para duta besar, pejabat senior, ilmuwan, pakar bidang luar negeri, hingga perwakilan unit di bawah Kementerian Luar Negeri serta dosen dan mahasiswa Akademi Diplomatik.
Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Nguyen Dy Nien, mantan anggota Komite Sentral Partai sekaligus mantan Menteri Luar Negeri; Nguyen Tien Nang, mantan asisten mendiang Perdana Menteri Pham Van Dong; Tran Tam Giap, mantan sekretaris mendiang Perdana Menteri Pham Van Dong; serta Mayor Jenderal Pham Son Duong, putra mendiang Pham Van Dong, bersama istrinya.
Seminar ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 120 tahun kelahiran Pham Van Dong (1 Maret 1906 – 1 Maret 2026), yang dikenal sebagai mendiang Perdana Menteri, Menteri Luar Negeri, dan Kepala Departemen Luar Negeri Komite Sentral. Fokus pembahasan diarahkan pada penjelasan aspek-aspek menonjol dari pemikiran, visi, dan metodologi Pham Van Dong dalam urusan luar negeri, sekaligus penghormatan atas kualitas, ideologi, dan warisannya di bidang diplomasi.
Dalam sambutan pembukaan, Anggota Komite Sentral Partai, Wakil Sekretaris Tetap Komite Partai, sekaligus Wakil Menteri Luar Negeri Nguyen Manh Cuong menegaskan Pham Van Dong sebagai murid teladan Presiden Ho Chi Minh, seorang komunis yang teguh, pemimpin yang dihormati Partai, Negara, dan rakyat Vietnam, serta diplomat berbakat yang dihargai di tingkat internasional.
Nguyen Manh Cuong juga menyoroti gaya diplomasi Pham Van Dong yang dinilai memadukan ketulusan, kerendahan hati, kelembutan, dan ketegasan. Menurutnya, pendekatan diplomasi itu mendalam secara teori namun mudah dipahami, mengutamakan dialog, menghormati perbedaan, serta konsisten mengejar tujuan perdamaian, kerja sama, dan pembangunan. Ia menyebut nama Pham Van Dong terkait dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah diplomasi Vietnam, termasuk Konferensi Fontainebleau dan Konferensi Jenewa, serta menyatakan pandangan visionernya turut menjadi landasan bagi kemenangan besar Vietnam pada dekade Doi Moi (Renovasi).
Dalam salah satu makalah, Nguyen Dy Nien menyampaikan paparan berjudul “Kawan Pham Van Dong – seorang murid teladan Presiden Ho Chi Minh, kakak tertua diplomasi Vietnam.” Seminar juga menyoroti bakat, karakter, dan kontribusi Pham Van Dong bagi perjuangan revolusi Vietnam. Ia disebut memiliki rekam jejak panjang dalam kepemimpinan, antara lain 41 tahun sebagai anggota Komite Sentral Partai, 35 tahun sebagai anggota Politbiro, serta 32 tahun sebagai Perdana Menteri. Dalam bidang luar negeri, ia tercatat pernah menjabat Wakil Perdana Menteri kemudian Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri pada periode 1954–1961, serta Kepala Departemen Luar Negeri Komite Sentral pada 1954–1955 dan 1960–1961.
Para delegasi juga menekankan warisan diplomatik Pham Van Dong sebagai pemimpin strategis yang menggabungkan tiga front perjuangan—militer, politik, dan diplomatik—untuk mencapai kemenangan dalam perang perlawanan berkepanjangan. Ia juga digambarkan sebagai diplomat yang cerdik dan kreatif, dengan kemampuan khusus untuk “menceritakan kisah Vietnam kepada dunia.”
Bagi kalangan diplomat dan pejabat luar negeri, Pham Van Dong disebut sebagai “kakak laki-laki” dan “guru besar” yang posisinya hanya berada di bawah Presiden Ho Chi Minh, serta dihormati oleh generasi-generasi di sektor hubungan luar negeri. Ia juga dikenang memiliki karisma kepemimpinan, termasuk kesediaannya meluangkan waktu menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dari wartawan. Ketulusan dan keluasan pengetahuannya disebut turut menginspirasi dukungan dari teman-teman internasional bagi perjuangan revolusioner Vietnam.
Selain peran diplomasi di tingkat strategis, Pham Van Dong juga dinilai memberi perhatian besar pada pembangunan sektor diplomatik dan pelatihan pejabat urusan luar negeri. Filosofinya disebut berpusat pada manusia, menekankan prinsip namun tetap fleksibel dalam penerapan. Ia mendorong pejabat diplomatik untuk terus belajar, termasuk ilmu politik, keterampilan profesional, dan bahasa asing, serta memberi penekanan khusus pada kemampuan menulis dokumen. Sebagai Perdana Menteri, ia disebut kerap mengedit dan membimbing dokumen secara langsung.
Dalam pidato penutup, Nguyen Manh Cuong menyatakan bahwa bersama Presiden Ho Chi Minh—pendiri dan Menteri Luar Negeri pertama—Pham Van Dong secara konsisten menekankan peran diplomasi sebagai metode penting untuk membangun perdamaian dan pembangunan. Ia menilai pemikiran dan praktik Pham Van Dong telah membentuk landasan teoritis dan praktis yang kuat bagi urusan luar negeri dan integrasi internasional, yang disebut secara resmi sebagai tugas “penting dan berkelanjutan” pada Kongres Partai ke-14 yang baru saja berakhir.
Menurutnya, pelajaran dari kehidupan dan karya revolusioner Pham Van Dong tetap relevan hingga kini, termasuk sebagai arahan dalam menerapkan pedoman kebijakan luar negeri Kongres Partai ke-14 dan membangun sektor diplomatik yang modern, komprehensif, dan profesional, serta mendorong peningkatan strategi kebijakan luar negeri komprehensif ke tingkat yang lebih tinggi.

