Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia untuk berperan aktif membantu meredakan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pemerintah, melalui Kementerian Luar Negeri RI, menyampaikan bahwa Indonesia siap menawarkan diri sebagai mediator apabila kedua pihak menyetujui, termasuk kemungkinan Prabowo melakukan perjalanan ke Tehran untuk memfasilitasi dialog demi stabilitas kawasan.
Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi serius di Timur Tengah. Dalam perkembangan terakhir, terjadi serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya ke wilayah Iran, yang kemudian direspons Iran dengan serangan roket. Indonesia menyerukan semua pihak untuk menahan diri, mengutamakan dialog, serta menghormati kedaulatan dan integritas setiap negara.
Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) menanggapi inisiatif tersebut dengan menilai langkah menjadi mediator sebagai niat baik dalam semangat diplomasi. Namun, JK mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi tidak ringan karena konflik ini berskala internasional dan kompleks.
JK menyoroti rumitnya upaya mediasi dengan membandingkan pada konflik Israel–Palestina yang selama ini sulit didamaikan. Menurutnya, tantangan dalam memediasi konflik AS–Iran dapat jauh lebih rumit mengingat keterlibatan negara-negara berpengaruh besar.
Selain itu, JK menyinggung posisi Indonesia dalam hubungan luar negeri, khususnya relasi dengan Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa kesepakatan yang dinilai tidak seimbang dapat memengaruhi posisi tawar Indonesia dalam perundingan internasional, yang pada akhirnya berpotensi menyulitkan peran Indonesia sebagai mediator dalam konflik yang melibatkan kekuatan besar.

