Istanbul — Menteri Luar Negeri Oman Badr bin Hamad al-Busaidi menyatakan pintu diplomasi tetap terbuka di tengah serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Ia menyerukan agar pihak-pihak yang bertikai kembali ke meja perundingan dan mengingatkan agar harapan perdamaian tidak ditinggalkan.
Dalam pernyataannya melalui media sosial X pada Minggu (1/3), al-Busaidi mengatakan perundingan di Jenewa telah mencatat kemajuan nyata menuju kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Iran dan AS.
Ia menekankan bahwa konflik yang sedang berlangsung tidak boleh menghapus prospek perdamaian. Menurutnya, perang tidak seharusnya memadamkan harapan damai, dan ia masih percaya pada kekuatan diplomasi untuk menyelesaikan konflik tersebut.
“Semakin cepat perundingan dilanjutkan, semakin baik bagi semua orang,” ujar al-Busaidi.
Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada Sabtu (28/2) pagi, ketika perundingan antara Teheran dan Washington sedang berlangsung. Oman diketahui berperan sebagai mediator dalam perundingan tersebut.
Serangan serupa juga pernah terjadi pada Juni 2025, saat Israel dan AS melakukan serangan terhadap Iran di tengah putaran negosiasi Iran-AS lainnya yang juga dimediasi Oman.
Sebelumnya, pada Jumat (27/2), al-Busaidi menyebut pembicaraan nuklir AS-Iran telah mencapai kesepakatan mengenai “nol penimbunan” uranium yang diperkaya. Kesepakatan itu mencakup pengurangan stok yang ada ke tingkat terendah serta mengubahnya menjadi bahan bakar permanen di bawah verifikasi penuh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Dalam pernyataannya kepada CBS, al-Busaidi menyampaikan keyakinan bahwa “kesepakatan perdamaian berada dalam jangkauan kita” jika diplomasi diberi “ruang yang dibutuhkan untuk mencapainya.”

