WELLINGTON — Menteri Perdagangan dan Investasi Selandia Baru Todd McClay memperingatkan potensi gangguan pada rantai pasok global akibat konflik di Timur Tengah. Peringatan itu disampaikan dalam pertemuan Kemitraan Masa Depan Investasi dan Perdagangan (Future of Investment and Trade Partnership/FIT) yang digelar secara virtual pada Senin (16/3) waktu setempat.
Dalam pernyataan pemerintah yang dikutip Selasa (17/3), McClay mengatakan pertemuan FIT menjadi peluang bagi para mitra untuk menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga rantai pasok tetap terbuka dan tangguh. Ia juga menekankan pentingnya kerja sama untuk berbagi informasi secara waktu nyata serta mengoordinasikan respons bersama ketika terjadi gangguan.
Pertemuan tersebut menyepakati deklarasi menteri mengenai penguatan sistem perdagangan berbasis aturan. McClay menilai langkah seperti pembatasan ekspor dan penimbunan dalam skala besar berpotensi memperburuk dampak ekonomi.
Ia menambahkan, menjaga jalur perdagangan tetap terbuka—termasuk melalui angkutan udara dan laut—merupakan kepentingan bersama negara-negara mitra FIT agar arus bahan bakar dan barang penting lainnya tetap lancar.
McClay menyebut pertemuan itu juga menjadi kesempatan bagi Selandia Baru untuk membahas risiko gangguan pasokan global sekaligus mengangkat isu-isu seperti tantangan rantai pasok bahan bakar bersama negara kecil dan menengah lain yang bergantung pada perdagangan.
FIT diluncurkan pada September 2025 dan beranggotakan 16 negara kecil serta menengah yang bergantung pada perdagangan. Selandia Baru dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan menteri FIT berikutnya di Auckland pada Juli 2026.

