BERITA TERKINI
SBY Peringatkan Eskalasi Konflik AS-Israel-Iran Berisiko Meluas dan Mengguncang Stabilitas Global

SBY Peringatkan Eskalasi Konflik AS-Israel-Iran Berisiko Meluas dan Mengguncang Stabilitas Global

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan ketegangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah berpotensi berkembang menjadi konflik kawasan yang lebih luas. Menurutnya, jika eskalasi terus membesar, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga dapat mengguncang stabilitas global dari sisi keamanan, kemanusiaan, hingga ekonomi.

“Kalau peperangan yang ada di Timur Tengah ini meluas, membesar, tentu ada implikasinya pada kehidupan, tidak hanya di kawasan Timur Tengah, tetapi juga di banyak tempat di dunia ini,” ujar SBY, dikutip dari YouTube pribadinya, Kamis (5/3/2026).

SBY menilai dinamika beberapa hari terakhir menunjukkan adanya potensi pergeseran dari konflik terbatas menjadi perang regional. Ia menyebut pada awalnya konflik melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, namun situasi menjadi lebih kompleks setelah sejumlah negara di kawasan Teluk ikut terdampak akibat serangan balasan.

Negara-negara yang disebut terdampak antara lain Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Yordania, Uni Emirat Arab, hingga Oman. SBY mengatakan, pada mulanya negara-negara tersebut cenderung mengambil posisi netral. Namun, ketika wilayah mereka turut menjadi sasaran serangan, mereka melakukan tindakan balasan untuk mempertahankan kedaulatan.

“Kalau tadinya Amerika dan Israel melawan Iran, sekarang menjadi lebih rumit karena negara-negara Teluk yang diserang juga melakukan pembalasan. Ini membuat konflik semakin kompleks dan berbahaya,” kata SBY.

Selain eskalasi di kawasan, SBY juga menyoroti kemungkinan konflik menyeret negara-negara besar di luar Timur Tengah. Ia menyinggung adanya laporan mengenai serangan terhadap posisi militer Inggris di Siprus. Jika laporan itu terbukti, menurutnya, hal tersebut berpotensi memicu penerapan Pasal 5 NATO, yang menyatakan serangan terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

SBY menilai, jika skenario tersebut terjadi, konflik dapat berkembang jauh lebih besar karena negara-negara kuat dunia berpotensi ikut terlibat. Ia juga menyebut kemungkinan respons dari negara-negara besar seperti Rusia, Tiongkok, hingga Korea Utara bila konflik semakin meluas.

“Kalau itu terjadi, Timur Tengah bisa menjadi titik panas yang memicu perang yang jauh lebih besar. Bahkan tidak menutup kemungkinan memicu Perang Dunia Ketiga, meskipun sebenarnya masih bisa dicegah,” ujarnya.

SBY turut menekankan risiko kemanusiaan apabila konflik terus bereskalasi. Ia mengaitkan kekhawatiran itu dengan situasi di Gaza, Palestina, yang dalam konflik sebelumnya telah menimbulkan banyak korban sipil. Dalam pandangannya, kondisi global saat ini juga menunjukkan perubahan tatanan hubungan internasional, ketika banyak negara lebih mengutamakan kepentingan nasional masing-masing dibanding kerja sama global.

Ia menilai peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melemah, sementara hukum internasional kerap diabaikan oleh negara-negara kuat. “Sekarang banyak negara yang lebih mengutamakan kepentingannya sendiri. Multilateralisme melemah, bahkan hukum internasional sering tidak diindahkan,” kata SBY. Ia khawatir, jika kondisi tersebut berlanjut, tragedi kemanusiaan seperti di Gaza dapat terulang di wilayah lain.

Dari sisi ekonomi, SBY mengingatkan konflik di Timur Tengah berpotensi mengguncang perekonomian dunia, terutama sektor energi, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu sumber utama pasokan minyak global. Jika distribusi energi terganggu, harga minyak dunia dinilai berisiko melonjak tajam.

SBY menyebut dalam beberapa hari terakhir harga minyak dunia disebut sudah naik sekitar 20 dolar per barel. Kondisi itu, menurutnya, dapat berdampak langsung pada negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia.

Ia menjelaskan asumsi harga minyak dalam APBN Indonesia berada di kisaran 70 dolar per barel. Jika harga meningkat hingga 100 sampai 150 dolar per barel, tekanan terhadap anggaran negara dapat meningkat signifikan.

Dalam kesempatan yang sama, SBY menyampaikan keyakinannya bahwa Presiden RI Prabowo Subianto akan menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk menghadapi potensi tekanan ekonomi global akibat konflik tersebut. Ia menekankan pentingnya kebijakan ekonomi dan fiskal yang tepat agar Indonesia tidak terlalu terdampak oleh gejolak global.

“Harus disiapkan dengan baik. Jangan sampai badai global membuat ekonomi kita terhuyung. Kita perlu antisipasi yang matang dan kebijakan ekonomi yang tepat,” kata SBY.

Dengan situasi yang masih berkembang, SBY menilai perhatian dunia terhadap konflik Timur Tengah perlu disertai upaya pencegahan agar eskalasi tidak meluas. Ia mengingatkan, dampak perang tidak hanya dirasakan pihak yang terlibat langsung, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas global, termasuk perekonomian Indonesia.