BERITA TERKINI
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, DPR Minta Pemerintah dan BI Perkuat Antisipasi

Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, DPR Minta Pemerintah dan BI Perkuat Antisipasi

Nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat pada Kamis, 14 Mei 2025. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global yang masih tinggi.

Pergerakan rupiah dalam beberapa pekan terakhir menjadi sorotan karena terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global, penguatan dolar AS, serta meningkatnya tekanan di pasar keuangan internasional. Pelemahan kurs dikhawatirkan berimbas pada kenaikan harga barang impor, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Ketua DPR Puan Maharani meminta pemerintah dan Bank Indonesia (BI) segera menjelaskan strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional. DPR juga disebut akan memanggil pemerintah dan otoritas moneter untuk membahas arah kebijakan ekonomi makro serta mitigasi risiko terhadap APBN 2027.

“Situasi ini jangan sampai pengaruhnya itu nantinya akan membuat Indonesia jadi terpuruk. Jadi harus diantisipasi sejak awal,” ujar Puan dalam keterangannya di Jakarta.

Pelemahan rupiah kali ini dinilai terjadi dalam situasi yang berbeda karena ekonomi global masih dibayangi ketegangan geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, dan tingginya suku bunga acuan Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat arus modal asing ke negara berkembang lebih rentan berbalik keluar menuju aset berbasis dolar AS yang dianggap lebih aman.

Di sisi lain, BI menyatakan tetap optimistis terhadap fundamental ekonomi nasional. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan bank sentral masih yakin rupiah dapat kembali stabil dan menguat seiring langkah intervensi dan kebijakan stabilisasi yang dilakukan.

“Fundamental ekonomi Indonesia itu sangat baik dibandingkan dengan negara-negara lain,” ujar Ramdan di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.

BI menyampaikan telah menempuh sejumlah langkah stabilisasi, termasuk intervensi di pasar valuta asing, penguatan instrumen SRBI, pembelian surat berharga negara di pasar sekunder, serta menjaga likuiditas perbankan dan pasar uang domestik.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah tetap memunculkan kekhawatiran di sektor riil. Pelemahan mata uang berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku industri, energi, dan pangan. Jika berlangsung berkepanjangan, kondisi ini dapat berdampak pada kenaikan harga barang konsumsi dan biaya produksi.

Bagi Jawa Timur, pelemahan rupiah dinilai memiliki implikasi penting karena provinsi tersebut merupakan salah satu pusat industri manufaktur, perdagangan, dan logistik nasional. Tekanan kurs berpotensi memengaruhi biaya impor bahan baku industri di Surabaya, Gresik, dan Pasuruan yang selama ini bergantung pada pasokan luar negeri.

Selain sektor industri, dampak kurs juga berpotensi dirasakan pelaku UMKM yang menggunakan bahan baku impor atau memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS. Kenaikan biaya distribusi dan produksi dikhawatirkan mempersempit margin usaha kecil, terutama ketika daya beli masyarakat melambat.

Sejumlah pengamat menilai kondisi saat ini masih berada dalam fase yang dapat dikendalikan, namun membutuhkan koordinasi kuat antara pemerintah dan BI. Stabilitas nilai tukar dinilai tidak hanya bertumpu pada intervensi moneter, tetapi juga pada kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan fiskal dan ekonomi nasional.

Tekanan terhadap rupiah juga menunjukkan tingginya ketergantungan ekonomi domestik pada dinamika global. Ketika dolar AS menguat akibat suku bunga tinggi dan ketidakpastian internasional, negara berkembang seperti Indonesia cenderung menghadapi tekanan arus modal dan pelemahan kurs.

Fenomena serupa pernah terjadi pada krisis 1998, taper tantrum 2013, hingga gejolak pandemi Covid-19 pada 2020. Namun, pemerintah disebut kini memiliki instrumen stabilisasi yang lebih lengkap, termasuk cadangan devisa yang lebih besar, koordinasi fiskal-moneter, serta sistem perbankan yang dinilai lebih kuat dibanding dua dekade lalu.

Meski begitu, sejumlah analis mengingatkan stabilitas rupiah tetap perlu dijaga karena kurs memiliki efek psikologis besar terhadap pasar dan masyarakat. Ketika pelemahan berlangsung terlalu cepat, kekhawatiran publik terhadap kondisi ekonomi dapat meningkat dan memengaruhi perilaku konsumsi maupun investasi.

Di tengah tekanan global, pemerintah juga menghadapi tantangan menjaga pertumbuhan ekonomi domestik agar tidak melambat terlalu dalam. Jika rupiah terus melemah sementara harga impor naik, risiko inflasi dan perlambatan industri dapat muncul bersamaan. Hingga Kamis malam, pemerintah dan BI menyatakan situasi ekonomi nasional masih terkendali.

Perkembangan nilai tukar dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan menjadi salah satu indikator penting yang memengaruhi arah kebijakan ekonomi nasional menuju semester kedua 2026.