BERITA TERKINI
BI Yakin Rupiah Berpeluang Menguat Meski Tertekan Sentimen Global

BI Yakin Rupiah Berpeluang Menguat Meski Tertekan Sentimen Global

Bank Indonesia (BI) menyatakan tetap optimistis terhadap ketahanan nilai tukar rupiah di tengah tekanan ekonomi global. Meski rupiah dibuka melemah ke level Rp17.535 pada hari ini, BI menilai kondisi tersebut bersifat sementara dan tidak akan berlangsung lama.

BI menegaskan fundamental makroekonomi Indonesia masih tergolong sangat kuat. Kondisi ini menjadi dasar keyakinan bahwa posisi rupiah dinilai lebih stabil dibandingkan dengan sejumlah negara lain yang juga terdampak gejolak pasar.

Tekanan di pasar valuta asing disebut dipicu meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026. Situasi tersebut berdampak pada lonjakan harga minyak dunia yang disebut telah naik lebih dari 40 persen.

Dari dalam negeri, tekanan juga datang dari meningkatnya permintaan dolar AS. Kebutuhan valas itu terkait musim repatriasi dividen, jadwal pembayaran utang luar negeri, serta pemenuhan kebutuhan untuk ibadah haji.

BI juga mencatat pelemahan tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang lain ikut tertekan, antara lain peso Filipina, baht Thailand, rupee India, won Korea Selatan, serta mata uang negara-negara Amerika Selatan termasuk Chile.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa pelemahan mata uang merupakan fenomena global. Menurutnya, hampir seluruh mata uang dunia menghadapi tantangan serupa seiring tingginya ketidakpastian ekonomi.

Untuk meredam dampak sentimen eksternal, BI menyatakan akan melakukan intervensi aktif di pasar uang secara berkelanjutan melintasi berbagai zona waktu perdagangan. Intervensi dilakukan mulai dari pasar Jakarta, dilanjutkan ke sesi perdagangan Eropa, hingga pasar Amerika.

BI menyebut optimisme terhadap peluang penguatan rupiah ditopang oleh daya tahan indikator ekonomi domestik, fundamental ekonomi nasional yang solid, serta cadangan devisa yang dinilai memadai untuk mendukung langkah stabilisasi.

Dengan fondasi tersebut, BI menilai rupiah saat ini berada di bawah nilai aslinya atau undervalue. BI meyakini terdapat ruang bagi rupiah untuk kembali menguat dalam waktu dekat seiring stabilisasi pasar.