BERITA TERKINI
PIER Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Stabil di Kisaran 5,1–5,3%

PIER Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Stabil di Kisaran 5,1–5,3%

Perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan kuat pada awal 2026. Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan, naik dibanding kuartal IV-2025 yang sebesar 5,39 persen. Capaian ini juga menjadi laju pertumbuhan tertinggi sejak kuartal III-2022.

Permata Institute for Economic Research (PIER) dalam analisisnya pada Selasa, 12 Mei 2026, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kumulatif sepanjang 2026 akan bergerak stabil pada rentang 5,1 hingga 5,3 persen.

Head, Macro Economic & Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rahman, menilai intervensi fiskal yang kuat di awal tahun merupakan langkah yang tepat untuk merespons guncangan. Namun, ia menekankan pentingnya mendorong masuknya investasi swasta agar pertumbuhan jangka panjang tidak terlalu bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Jadi kita lihat kebijakan yang fiscal driven itu ke depannya dalam jangka menengah panjang itu harus dapat meng-crowding in private investment seperti itu,” kata Faisal.

Dalam rilis kuartal I-2026, PIER juga menyoroti adanya aliran modal keluar (capital outflow) senilai USD1,79 miliar dari pasar domestik. Rincian pelepasan aset tersebut mencakup keluarnya dana sebesar USD1,48 miliar dari pasar obligasi dan USD1,95 miliar dari pasar saham.

Di tengah tekanan arus modal asing tersebut, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) disebut tetap mampu berperan sebagai peredam kejut pasar dengan menarik arus modal masuk sebesar USD1,64 miliar.

PIER menilai turbulensi di pasar keuangan dipengaruhi sejumlah sentimen makroekonomi yang memicu kecemasan investor global. Faktor yang disorot meliputi pelemahan nilai tukar rupiah, eskalasi harga energi, tensi geopolitik, serta ketidakpastian ruang pemangkasan suku bunga acuan.

Meski demikian, ketahanan sektor jasa keuangan domestik dan optimisme masyarakat dinilai masih menjadi bantalan ekonomi. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada April 2026 tercatat berada di zona optimis pada level 123,0.

Penyaluran kredit perbankan juga disebut tetap menunjukkan tren positif, meskipun standar persetujuan diterapkan lebih ketat. Namun, PIER mengingatkan daya tahan konsumsi perlu dijaga karena pelemahan rupiah dan inflasi energi berpotensi mendorong kenaikan harga barang impor, biaya logistik, dan ongkos produksi.

Secara keseluruhan, PIER menilai pertumbuhan PDB 5,61 persen pada kuartal pertama sebagai capaian yang kredibel. Kendati begitu, angka tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan ekonomi yang komprehensif. Sejumlah indikator seperti perlambatan belanja modal, kehati-hatian dalam rekrutmen tenaga kerja, tekanan biaya produksi, pelemahan sektor manufaktur, serta volatilitas pasar keuangan disebut menunjukkan kualitas pertumbuhan masih memerlukan perhatian.

Sementara itu, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyebut wacana pertumbuhan ekonomi nasional di angka enam persen merupakan skenario optimistis pemerintah. Menurutnya, optimisme tersebut bertumpu pada kuatnya permintaan domestik meski pasar keuangan dalam negeri tengah menghadapi volatilitas.

“Terkait dengan dorongan Menteri Keuangan untuk pertumbuhan enam persen itu dapat dipahami sebagai sinyal optimisme, itu penting sekali,” kata Josua.