Penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, kembali menyampaikan peringatan mengenai potensi krisis ekonomi global yang ia nilai kian dekat. Ia menyebut kondisi saat ini berada di ambang pecahnya “gelembung terbesar dalam sejarah” dan menilai sistem keuangan global tidak berkelanjutan.
Dikutip dari U.Today, Rabu (18/3/2026), Kiyosaki mengibaratkan situasi tersebut seperti gelembung yang menunggu “jarum” untuk meledak. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti peristiwa ekonomi atau geopolitik apa yang akan menjadi pemicunya, namun menegaskan waktunya semakin dekat.
“Ini bukan soal apakah akan terjadi, tetapi kapan,” ujarnya.
Untuk menghadapi kemungkinan krisis, Kiyosaki menyarankan pengikutnya mempertimbangkan peralihan ke aset yang ia anggap lebih aman atau risk-off assets, seperti Bitcoin, Ethereum, emas, dan perak. Ia juga mengutip prinsip dari filosofi “Rich Dad” yang ia gunakan, yakni “keuntungan Anda ditentukan saat membeli, bukan saat menjual.”
Dalam pandangannya, apabila krisis keuangan global terjadi seperti skenario Global Financial Crisis (GFC), mata uang fiat berpotensi mengalami penurunan tajam. Sebaliknya, ia memperkirakan aset keras seperti emas dan perak, serta aset digital terdesentralisasi seperti Bitcoin dan Ethereum, dapat mengalami lonjakan.
Kiyosaki bahkan memproyeksikan harga Bitcoin berpotensi mencapai USD 750.000 per koin dalam jangka panjang. Meski proyeksi tersebut terdengar agresif, ia mengklaim strategi investasinya tetap terukur dan portofolionya telah dilindungi dari risiko ketidakstabilan global.
“Jika saya salah, saya tetap memiliki arus kas dari properti dan bisnis saya,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Kiyosaki menekankan pentingnya menyesuaikan strategi investasi dengan kondisi masing-masing. Ia mengingatkan agar setiap orang memilih langkah yang paling aman dan sesuai dengan situasi keuangan pribadi mereka.

