Nama Amin H. Nasser kembali menjadi perhatian pelaku pasar global seiring perannya memimpin Saudi Aramco di tengah ketidakpastian pasar energi. Sebagai presiden dan chief executive officer (CEO) perusahaan minyak terbesar di dunia, arah kebijakan dan strategi yang ia ambil dinilai berpengaruh terhadap upaya pemulihan pasar minyak internasional yang sedang tertekan.
Menurut informasi di laman resmi Saudi Aramco, Amin H. Nasser menjabat sebagai Presiden dan CEO sejak 2015. Ia memulai karier di Aramco pada 1982 sebagai insinyur perminyakan, lalu menapaki berbagai posisi kepemimpinan di sektor hulu (upstream) sepanjang perjalanan kariernya.
Berdasarkan profil LinkedIn pribadinya, Nasser merupakan lulusan King Fahd University of Petroleum and Minerals dengan gelar sarjana teknik perminyakan. Selama lebih dari empat dekade, ia memimpin sejumlah inisiatif strategis, termasuk program investasi untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak dan gas Aramco yang ditujukan mendukung ketahanan energi global.
Dalam pernyataan terbarunya, Nasser menyampaikan peringatan mengenai kondisi pasar energi. Mengutip Reuters, dunia disebut telah kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak dalam dua bulan terakhir akibat gangguan pengiriman. Nasser menilai, meskipun aliran minyak nantinya kembali normal, stabilitas pasar akan memerlukan waktu lebih lama untuk pulih sepenuhnya.
Ia menyoroti beberapa faktor yang memperberat situasi. Pertama, hilangnya pasokan hingga 1 miliar barel dipandang sebagai guncangan besar yang tidak bisa pulih secara instan meski jalur distribusi dibuka kembali. Kedua, krisis dinilai semakin rumit akibat kurangnya investasi di sektor minyak dan gas selama bertahun-tahun, yang berdampak pada rendahnya stok cadangan global. Dalam kondisi tersebut, Nasser menegaskan fokus operasional Aramco adalah memastikan energi tetap mengalir ke seluruh dunia meskipun sistem berada di bawah tekanan. Ia juga menyatakan Asia tetap menjadi prioritas utama Aramco karena kawasan ini merupakan pusat permintaan energi global.
Untuk memitigasi gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak, Nasser mengoptimalkan aset infrastruktur strategis perusahaan. Aramco menggunakan pipa transmisi Timur-Barat (East-West Pipeline) untuk mengalihkan pengangkutan minyak mentah ke arah Laut Merah. Nasser menyebut langkah tersebut sebagai jalur penyelamat kritis dalam meredam risiko krisis pasokan global.
Strategi itu disebut membantu menjaga kinerja keuangan perusahaan. Aramco tercatat membukukan kenaikan laba bersih 25% pada kuartal pertama 2026.
Di sisi lain, Nasser menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara transisi energi dan kebutuhan mendesak terhadap pasokan energi fosil yang andal. Di bawah kepemimpinannya, Aramco tidak hanya berfokus pada produksi konvensional, tetapi juga mulai merambah teknologi penangkapan karbon dan produksi hidrogen sebagai bagian dari visi jangka panjang perusahaan.
Dengan pengalaman teknis dan lapangan yang panjang, Nasser terus menjadi salah satu figur yang aktif menyuarakan pandangannya di berbagai forum ekonomi internasional, termasuk World Economic Forum (WEF), di tengah dinamika krisis geopolitik dan tekanan terhadap pasar energi global.