Ketegangan antara Rusia dan negara-negara Eropa kembali meningkat setelah Angkatan Laut Prancis menahan sebuah kapal tanker minyak yang masuk daftar hitam Uni Eropa (UE). Insiden ini memicu reaksi keras dari Presiden Rusia Vladimir Putin, yang mengecam tindakan tersebut sebagai “pembajakan” dan berjanji akan memberikan respons.
Mengutip AFP, Putin menyatakan Rusia tidak akan tinggal diam menghadapi apa yang ia sebut sebagai ancaman dari Eropa. “Langkah-langkah pembalasan oleh Rusia tidak akan lama lagi. Respons terhadap ancaman semacam itu akan sangat signifikan. Rusia tidak akan pernah menunjukkan kelemahan atau keraguan,” kata Putin pada Jumat (3/10/2025).
Peringatan itu muncul setelah kapal tanker bernama Boracay ditahan dan diperiksa oleh Angkatan Laut Prancis pada Sabtu. Kapal tersebut diduga kuat merupakan bagian dari “armada bayangan” (shadow fleet) yang disebut digunakan Moskow untuk menghindari sanksi dan tetap mengekspor minyak mentah.
Berdasarkan data pengiriman yang dianalisis AFP, Boracay berangkat dari pelabuhan Primorsk, Rusia, pada 20 September dan dijadwalkan tiba di Vadinar, India, pada 20 Oktober.
Penahanan kapal ini juga dikaitkan dengan isu lain di luar dugaan pelanggaran sanksi. Boracay, yang juga dikenal dengan nama Pushpa atau Kiwala, disebut pernah dikaitkan dengan serangkaian penerbangan drone misterius di atas wilayah Denmark bulan lalu, termasuk di atas lokasi-lokasi militer. Insiden tersebut dilaporkan sempat memicu penutupan bandara sementara.
Otoritas Prancis menyatakan kapten kapal berkewarganegaraan China dan mualim satu ditahan karena menolak memberikan bukti kewarganegaraan kapal atau dinilai tidak kooperatif. Mualim satu telah dibebaskan, sementara kapten dijadwalkan menghadapi persidangan di Prancis pada Februari tahun depan. Jaksa penuntut umum di kota Brest menyebut investigasi Angkatan Laut Prancis menyimpulkan bahwa Boracay “tidak memiliki bendera.”
Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dalam pertemuan puncak di Denmark yang juga dihadiri Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, mendorong negara-negara Eropa untuk meningkatkan upaya mengganggu “armada bayangan” Rusia. Macron menyampaikan para panglima militer dari “koalisi” pendukung Ukraina akan segera menggelar pembicaraan guna membahas langkah-langkah untuk mengganggu operasi armada tersebut.
Macron memperkirakan “armada bayangan” mencakup hingga 1.000 kapal dan menyumbang “puluhan miliar euro” bagi anggaran Rusia, atau sekitar 40% dari upaya perang Moskow. Menurut Macron, kapal-kapal tersebut kerap menggunakan bendera negara lain, memiliki kepemilikan yang tidak jelas, serta sering mematikan transponder untuk menghindari deteksi.

