Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kawasan yang mencakup Eropa, Rusia, dan Asia Tengah menjadi wilayah dengan angka pengguna tembakau tertinggi di dunia. Berdasarkan studi WHO, tren ini diperkirakan tidak berubah sebelum 2030.
Temuan tersebut sejalan dengan laporan tahun 2025 yang menyatakan wilayah yang dikenal sebagai regional Eropa kini memimpin penggunaan tembakau dan diprediksi tidak akan mencapai target pengurangan konsumsi tembakau hingga akhir dekade ini.
WHO menegaskan penggunaan tembakau tidak hanya merujuk pada rokok atau cerutu, tetapi juga rokok elektronik serta produk tembakau tanpa asap yang mengandung nikotin—zat kimia adiktif yang diekstrak dari tanaman tembakau. Produk tembakau tanpa asap mencakup tembakau kunyah atau kantung nikotin yang diletakkan di antara gigi dan gusi.
Direktur WHO untuk wilayah tersebut, Hans Henri Kluge, mengatakan industri tembakau secara langsung menargetkan kaum muda untuk memperkenalkan mereka pada berbagai produk tembakau. Menurutnya, hal itu terjadi meskipun beberapa negara telah berupaya meregulasikan iklan dan pengembangan produk turunan tembakau.
Di wilayah Eropa, WHO mencatat sekitar 4 juta anak berusia 13–15 tahun menggunakan produk tembakau. Pada kelompok usia yang sama, satu dari tujuh menggunakan rokok elektronik—angka yang disebut tertinggi dibandingkan wilayah WHO lainnya. WHO juga melaporkan bahwa anak perempuan di wilayah ini menggunakan tembakau lebih banyak dibandingkan kelompok seusia di lima wilayah WHO lainnya.
“Ini adalah hasil strategi industri yang sengaja menargetkan anak muda dengan produk beragam rasa didukung pemasaran media sosial yang canggih,” kata Kluge.
Namun, Kluge menyatakan beberapa negara seperti Belgia, Denmark, dan Belanda menunjukkan bahwa tren tersebut masih dapat dilawan melalui regulasi terhadap produk-produk baru, pelarangan ragam rasa tembakau, serta pengetatan iklan.
WHO juga menyoroti lambatnya penurunan kebiasaan merokok pada perempuan. Sekitar dua perlima perokok perempuan di dunia disebut tinggal di wilayah ini.
Dalam laporannya, WHO menilai regulasi terkait tembakau di Eropa belum merata. Kelemahan aturan di sejumlah area dinilai membuka ruang bagi produk tembakau untuk menyebar di kalangan anak muda.
WHO membandingkan situasi tersebut dengan wilayah Asia Tenggara. Hingga 2025, Asia Tenggara disebut memiliki tingkat penggunaan tembakau tertinggi di dunia di antara enam wilayah kesehatan WHO, tetapi tren rokok di kawasan itu menunjukkan penurunan. Penurunan tersebut dikaitkan dengan langkah-langkah seperti penerapan label peringatan kesehatan pada kemasan, larangan merokok, edukasi di sekolah, serta pelibatan figur publik sebagai pemengaruh.
Sementara di Eropa, WHO menyatakan hanya sepertiga negara di wilayah tersebut yang telah menerapkan undang-undang bebas asap rokok di ruang publik. Selain itu, hanya seperempat negara yang memiliki layanan bantuan nasional, layanan gratis untuk berhenti merokok, atau larangan iklan tembakau.
WHO juga mencatat harga tembakau di dua pertiga negara Eropa saat ini lebih murah dibandingkan sepuluh tahun yang lalu.
Kluge mengatakan sekitar 1,1 juta orang di wilayah Eropa meninggal akibat penyakit yang disebabkan oleh penggunaan tembakau.

