Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan ketahanan pangan merupakan faktor utama dalam menjaga kedaulatan, stabilitas, hingga perdamaian sebuah negara. Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri sidang pleno KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Jumat (8/5/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo menilai persoalan pangan tidak dapat dipandang semata sebagai isu ekonomi, melainkan menyangkut keberlangsungan kehidupan masyarakat dan negara. Karena itu, ia menekankan pemerintah perlu hadir secara aktif untuk memastikan sektor pangan tetap kuat dan berkelanjutan.
“Tanpa pangan, pada dasarnya tidak ada masyarakat. Tanpa pangan, tidak ada kemerdekaan. Tanpa pangan, tidak ada kedamaian,” ujar Prabowo.
Prabowo mengatakan Indonesia terus memperkuat langkah menuju kedaulatan pangan melalui peningkatan sektor pertanian dan keberpihakan kepada petani nasional. Menurutnya, pertanian merupakan fondasi strategis yang tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar.
“Pertanian terlalu penting. Ketahanan pangan itu penting. Bagi kami, ini adalah tanggung jawab utama pemerintah, dan pemerintah Indonesia bertekad mengambil tanggung jawab penuh serta kedaulatan penuh atas sektor vital ini,” katanya.
Prabowo juga mengingatkan negara-negara ASEAN tentang ancaman perubahan iklim, termasuk potensi El Nino ekstrem yang berisiko mengganggu produksi pangan di kawasan. Dalam kondisi tersebut, ia mendorong penguatan kerja sama regional di sektor pangan.
Ia menilai pengembangan teknologi pertanian, diversifikasi pangan, serta penguatan sistem cadangan pangan kawasan perlu menjadi prioritas bersama. Menurut Prabowo, tantangan krisis pangan global tidak dapat dihadapi oleh masing-masing negara secara sendiri-sendiri.
“Kita telah diperingatkan oleh organisasi internasional mengenai risiko El Nino ekstrem yang mengintai di depan kita. Dalam situasi ini, ketahanan pangan menjadi semakin mendesak,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo turut mendorong optimalisasi sistem cadangan pangan kawasan melalui ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR) sebagai langkah memperkuat kesiapan menghadapi ancaman krisis pangan di masa mendatang.
Di dalam negeri, pemerintah melalui Kementerian Pertanian mempercepat sejumlah program strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan penguatan sektor pertanian menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas nasional di tengah tantangan global.
“Swasembada adalah kerja terbaik Kabinet Merah Putih dari gagasan besar Presiden Republik Indonesia dan dari keringat petani Indonesia,” ujar Amran.
Pemerintah mencatat sejumlah indikator positif di sektor pertanian, di antaranya stok cadangan beras nasional yang disebut telah melampaui 5 juta ton, peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP), serta kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, transformasi pertanian juga dilakukan melalui hilirisasi komoditas unggulan seperti sawit, kopi, kakao, dan kelapa, termasuk modernisasi alat pertanian serta penggunaan benih unggul untuk meningkatkan produktivitas nasional.
Penguatan sektor pangan tersebut dinilai menjadi modal bagi Indonesia untuk menghadapi ancaman krisis pangan dunia sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama pangan kawasan ASEAN.