JAKARTA – Perburuan terhadap empat narapidana teroris yang melarikan diri dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tanjung Gusta, Sumatera Utara, masih berlangsung hingga satu minggu setelah insiden kaburnya lebih dari 200 narapidana.
Kejadian tersebut bermula dari kerusuhan yang terjadi di Lapas Tanjung Gusta akibat protes narapidana terhadap kondisi fasilitas yang buruk serta kebijakan remisi yang diperketat. Sebanyak 106 narapidana masih buron, termasuk empat teroris yang menjadi fokus utama aparat kepolisian.
Identitas dan Latar Belakang Para Buronan
Empat teroris yang menjadi target penangkapan adalah Fadli Sadama, Agus Sunyoto, Nibras, dan Abdul Gani Siregar. Mereka dihukum karena keterlibatan dalam perampokan bank di Sumatera Utara dan serangan terhadap kantor polisi pada tahun 2010.
Kelompok ini juga diduga memiliki hubungan dengan Toni Togar, seorang teroris yang terafiliasi dengan organisasi ekstrimis Jemaah Islamiyah Asia Tenggara. Togar saat ini menjalani hukuman 20 tahun penjara atas perannya dalam rangkaian pengeboman gereja pada tahun 2000.
Ancaman dan Potensi Pergerakan Para Teroris
Pengamat terorisme Noor Huda Ismail menyoroti Fadli Sadama sebagai sosok paling berbahaya di antara keempat buronan tersebut. Sadama dikenal sebagai penjahat kambuhan yang sangat ekstrem dalam aktivitas jihadisnya.
"Dia tidak menyesali perbuatannya di masa lalu dan kemungkinan besar akan kembali ke jaringan teroris. Namun, tantangannya adalah apakah ia dapat menemukan tempat perlindungan yang aman serta mendapatkan dukungan logistik dan kontak yang diperlukan," ujar Noor Huda.
Diketahui, Sadama pernah menyelundupkan narkotika jenis metamfetamin dari Malaysia ke Indonesia untuk membiayai kegiatan terornya. Pada 2010, ia ditangkap di Johor Baru, Malaysia, saat berusaha menyelundupkan senjata ke Indonesia.
Langkah Keamanan dan Kerjasama Regional
Dalam upaya mengantisipasi potensi masuknya para buronan ke wilayah lain, Malaysia meningkatkan status siaga dan memperketat patroli di perbatasan. Satuan tugas kontra-teroris Malaysia mengimbau pemerintah untuk lebih waspada mengingat keberadaan beberapa jalur masuk ilegal.
Di Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) telah menurunkan satuan tugas anti-teroris yang didukung pendanaan dari Amerika Serikat ke Medan. Polri juga menyebarluaskan foto-foto para buronan dan mengajak masyarakat untuk segera melaporkan jika menemukan aktivitas mencurigakan.
Upaya ini menjadi bagian dari langkah strategis untuk mencegah penyebaran jaringan teroris dan memastikan keamanan di wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya.