BERITA TERKINI
Pelaku Bom Kartasura Diduga Lone Wolf dengan Pemahaman Agama yang Keliru

Pelaku Bom Kartasura Diduga Lone Wolf dengan Pemahaman Agama yang Keliru

Teror bom bunuh diri kembali terjadi di Indonesia menjelang Hari Raya Idul Fitri, tepatnya pada 3 Juni 2024 di Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Pelaku yang berusia 23 tahun diketahui bernama Rofik Asharuddin, seorang penjual gorengan yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kelompok teroris terorganisir.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, menyampaikan bahwa Rofik selama ini tidak masuk dalam daftar pengawasan teroris. Bom pinggang yang digunakan berdaya ledak rendah sehingga pelaku hanya mengalami luka di perut dan tangan, tanpa menyebabkan kematian.

"Densus 88 sementara menyimpulkan bahwa pelaku tergolong lone wolf dan belum terindikasi berhubungan dengan kelompok teror terorganisir," ujar Dedi di Jakarta, Selasa (4/6). Ia menambahkan bahwa pola aksi yang dilakukan pelaku dinilai amatir, namun tetap menjadi ancaman serius.

Motivasi Pelaku dan Tantangan Literasi Agama

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridwan Habib, menjelaskan bahwa pelaku mengincar pahala di bulan Ramadan dengan melakukan jihad yang menyimpang. Menurutnya, terdapat pemahaman keliru di kalangan pelaku yang menganggap pahala jihad di bulan suci dilipatgandakan hingga 70 kali lipat.

"Pelaku seperti Rofik belajar agama secara otodidak dan mencari literatur secara mandiri, yang sayangnya tidak semuanya benar," kata Ridwan. Ia mengingatkan bahwa tanpa upaya serius dari pemerintah dan ormas keagamaan dalam menyebarkan literasi Islam yang moderat dan sejuk, risiko aksi teror serupa dapat berulang.

Peran Pemerintah dan Ormas Keagamaan

Ridwan menekankan pentingnya program kontra ideologi radikal yang konsisten dan sistematis, dengan keterlibatan pemerintah serta ormas Islam besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Ia menambahkan bahwa generasi milenial sangat membutuhkan literatur agama yang benar karena mudahnya akses informasi, termasuk yang menyimpang melalui internet.

Senada, Rumadi Ahmad, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM Nahdlatul Ulama, mengungkapkan bahwa NU telah berupaya menyebarkan wawasan agama moderat melalui jaringan pendidikan dan kaderisasi internal. Namun, ia menilai bahwa jangkauan tersebut perlu didukung dan diperkuat oleh pemerintah, termasuk di masjid dan lembaga pendidikan di berbagai daerah.

Rumadi mencontohkan kebijakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dalam mengawasi masjid kampus agar tidak menjadi sarang radikalisme, yang meskipun menuai pro dan kontra, dianggap perlu diperluas ke lingkungan lain. Ia menegaskan bahwa penanganan radikalisme harus dilakukan lintas sektor dan tidak hanya dibebankan pada Kementerian Pendidikan atau Kementerian Agama saja.

Rekam Jejak Teror di Solo dan Sekitarnya

Kejadian bom di Kartasura bukanlah yang pertama di wilayah Solo dan sekitarnya. Pada 2016, Nur Rohman, seorang pria berusia 31 tahun, meledakkan diri di depan kantor Polresta Solo dan kemudian diketahui terkait dengan jaringan ISIS.

Dalam setahun terakhir, kepolisian juga menangkap beberapa orang yang diduga akan melakukan aksi teror tunggal, termasuk dua perempuan bernama Roslina dan Yuliati Rahayuningrum pada Maret lalu. Penangkapan tersebut merupakan bagian dari upaya antisipasi terhadap rencana teror yang berhubungan dengan ISIS dan Jamaah Ansharut Daulah, terutama menjelang dan pascapemilu.

Upaya Pengamanan dan Penyelidikan

Hingga kini, polisi terus menggali keterangan dari saksi dan keluarga pelaku bom Kartasura. Rofik saat ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Profesor Awaludin Djamin milik Polri di Semarang.

Sejak 2010, tercatat setidaknya enam ancaman dan aksi teror bom yang menyasar aparat kepolisian maupun warga sipil di Solo dan sekitarnya. Kepolisian terus memperketat pengamanan di berbagai wilayah guna memastikan pelaksanaan Idulfitri berlangsung aman tanpa gangguan aksi teror.