BERITA TERKINI
Protes di Iran Berawal dari Kenaikan BBM Berubah Jadi Tuntutan Pergantian Rezim

Protes di Iran Berawal dari Kenaikan BBM Berubah Jadi Tuntutan Pergantian Rezim

Gelombang protes yang dimulai di Iran pada 15 November 2022, awalnya dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun demonstrasi tersebut dengan cepat berkembang menjadi tuntutan perubahan rezim pemerintah.

Sejumlah warga dari berbagai daerah di Iran berunjuk rasa dengan melakukan pembakaran poster-poster Pemimpin Agung, yang mereka juluki sebagai diktator. Aksi ini berlangsung selama enam hari di puluhan kota di seluruh negeri dan diwarnai oleh kekerasan serta penutupan hampir seluruh akses internet.

Berdasarkan laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Amnesty International, sedikitnya 106 orang tewas selama aksi tersebut, meskipun ada klaim bahwa jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi. Pemerintah Iran belum mengonfirmasi jumlah korban, namun menuding "para penjahat" yang terkait dengan musuh asing sebagai dalang di balik protes.

Meski pejabat PBB meminta aparat keamanan tidak menggunakan peluru tajam dalam menghadapi demonstran, rekaman video yang beredar menunjukkan pasukan keamanan menembak langsung ke arah para pengunjuk rasa. Pada 20 November, Presiden Hassan Rouhani menyatakan bahwa pemerintah berhasil mengalahkan rencana "musuh" yang diduga menggerakkan protes.

Perbedaan Protes Terbaru

Menurut pakar Iran dari BBC, yang membedakan protes kali ini adalah tingkat kekerasan yang berlebihan, vandalisme yang meluas, serta penindasan brutal oleh aparat keamanan. Pengamat regional menambahkan bahwa perintah penindasan tidak menunjukkan belas kasihan dan bertujuan menghancurkan protes secepat mungkin. Hal ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan ribuan orang ditangkap.

Selain itu, protes kali ini tidak hanya terpusat di ibu kota Teheran, melainkan terjadi di berbagai kota di seluruh negeri. Aksi tersebut juga tidak memiliki pemimpin tunggal dan, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, melibatkan partisipasi masyarakat kelas menengah.

Motivasi dan Peserta Protes

Seorang perempuan yang berpartisipasi dalam demonstrasi mengungkapkan keluhan terkait kondisi ekonomi yang memburuk, termasuk kenaikan harga pangan seperti daging, ayam, dan telur, serta kenaikan harga BBM. Pakar BBC menyatakan bahwa frustrasi ekonomi menjadi faktor utama pendorong protes ini.

Walaupun awalnya protes terjadi di wilayah yang secara ekonomi lebih rendah, di mana kenaikan BBM sebesar 200% sangat memberatkan, aksi ini kemudian meluas ke seluruh wilayah Iran. Negara ini menghadapi tekanan ekonomi besar sejak Amerika Serikat kembali menjatuhkan sanksi pada 2018, dengan inflasi mencapai lebih dari 40% dan tingkat pengangguran sekitar 15%.

Presiden Rouhani dinilai gagal memenuhi banyak janji kampanye dalam pemilu sebelumnya, yang memicu kegelisahan dan kemarahan atas memburuknya kondisi ekonomi dan kurangnya perubahan politik. Sebagian kelas menengah yang sebelumnya menjadi pendukungnya kini bergabung dalam gerakan protes.

Ketegangan antara kelompok etnis minoritas dengan pemerintah pusat juga menjadi pemicu kerusuhan di beberapa wilayah yang menginginkan pemisahan diri dari Iran.

Penutupan Akses Internet

Sejak Sabtu terakhir, pemerintah Iran memblokir akses internet secara luas, sehingga menyulitkan untuk memperoleh gambaran jelas terkait skala protes dan dampak penindasan aparat. Menurut Amnesty International, gelombang pembunuhan sedang berlangsung dengan jumlah korban sedikitnya 106 orang di 21 kota.

Penutupan internet juga menghambat komunikasi antar pemrotes, sehingga koordinasi menjadi sulit dan informasi tentang pengorganisasian aksi minim. Beberapa orang mencoba mengakali pembatasan menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN), tetapi sebagian besar komunikasi daring tetap terhenti total.

Selain itu, aplikasi pesan populer seperti WhatsApp tidak berfungsi, dan Telegram sudah ditutup sejak dua tahun lalu. Penutupan akses internet ini menunjukkan peningkatan penggunaan teknologi pengendalian yang semakin canggih oleh pemerintah. Akibatnya, masyarakat kembali menggunakan cara tradisional seperti menyebarkan pesan melalui buletin atau tulisan di atas kertas.

Situasi Terkini dan Tanggapan Pemerintah

Setelah aksi protes berhasil ditekan, pemerintah Iran mengonsolidasikan dukungan dengan basis pendukungnya. Presiden Rouhani menyatakan bahwa pemerintah berhasil menggagalkan skenario yang telah disiapkan selama dua tahun oleh "musuh", yang menurutnya melibatkan elemen subversif yang didukung oleh Amerika Serikat, Israel, dan Arab Saudi.

Media resmi pemerintah menyatakan situasi negara telah kembali normal. Namun laporan dari lapangan menunjukkan bahwa protes masih berlangsung dan belum sepenuhnya mereda.