Peristiwa teror 11 September 2001, yang dikenal luas dengan tragedi 9/11, menjadi salah satu momen yang berdampak besar terhadap persepsi terhadap umat Islam di seluruh dunia. Serangan terhadap gedung World Trade Center di Amerika Serikat tersebut tak hanya menewaskan sekitar 3.500 orang, tetapi juga memicu perubahan besar dalam kebijakan global terkait keamanan dan terorisme.
Sepuluh hari setelah serangan tersebut, Presiden Amerika Serikat saat itu, George W. Bush, mengumumkan perang melawan terorisme dan radikalisme secara global. Kampanye ini kemudian menjadi dasar bagi berbagai operasi militer dan kebijakan keamanan yang masih berlangsung hingga kini.
Pernyataan Bush yang kontroversial, termasuk penggunaan istilah "perang salib" (crusade) yang kemudian ditarik, menunjukkan kecemasan Amerika terhadap ancaman yang dirasakan dari kelompok-kelompok radikal. Ia menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan akibat kebencian terhadap nilai-nilai demokrasi, kebebasan beragama, kebebasan berbicara, dan hak memilih yang dijalankan di Amerika Serikat.
Tak lama setelah serangan, Osama bin Laden mengklaim bertanggung jawab atas aksi teror tersebut melalui organisasi yang dikenal dengan nama Al-Qaeda. Osama bin Laden, yang pernah didukung oleh intelijen Amerika Serikat di masa lalu, menjadi target utama dalam operasi militer AS yang dimulai dengan invasi ke Afghanistan. Tujuan utama invasi ini adalah menghancurkan jaringan Al-Qaeda dan menggulingkan rezim Taliban yang dianggap melindungi kelompok teroris tersebut.
Perang di Afghanistan yang dimulai sejak saat itu masih berlangsung hingga saat ini, menandai salah satu konflik terpanjang dalam sejarah modern. Selain dampak militer, peristiwa 9/11 juga membawa konsekuensi sosial dan politik yang besar, terutama terkait dengan persepsi dan stereotip terhadap umat Islam.
Dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, umat Islam di berbagai negara, termasuk Indonesia, kerap mendapatkan label negatif terkait terorisme. Tuduhan sepihak yang mengaitkan Islam secara keseluruhan dengan aksi teror telah menjadi tantangan serius bagi komunitas Muslim global dalam membangun citra dan dialog antaragama.
Dengan demikian, peristiwa 9/11 tidak hanya menandai sebuah tragedi kemanusiaan, tetapi juga menjadi titik kritis dalam hubungan antaragama dan geopolitik abad ke-21, terutama dalam konteks bagaimana umat Islam dipersepsikan di panggung dunia.