Perang yang berkepanjangan di Iran dinilai berpotensi memicu krisis energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dampaknya tidak hanya terbatas di kawasan Timur Tengah, tetapi juga dapat merembet ke berbagai negara dengan ekonomi besar hingga negara yang lebih rapuh.
Lonjakan harga minyak dan gas, serta terganggunya jalur distribusi energi, disebut menjadi faktor utama yang memperburuk situasi. Reuters pada 21 Maret 2026 melaporkan bahwa di kawasan Eropa, negara-negara ekonomi besar dalam kelompok G7 diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak.
Jerman, misalnya, sangat bergantung pada sektor industri dan manufaktur. Kenaikan harga energi berisiko mendorong biaya produksi meningkat, sementara permintaan global dapat melemah. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperlambat pemulihan ekonomi Jerman yang baru menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Italia juga menghadapi situasi serupa. Negara ini memiliki sektor manufaktur besar dengan ketergantungan tinggi terhadap pasokan minyak dan gas, sehingga kenaikan harga energi dapat memberi tekanan tambahan pada aktivitas ekonomi.
Sementara itu, Britania Raya disebut menghadapi tekanan karena pembangkit listriknya banyak bergantung pada gas. Ketika harga gas melonjak, tarif listrik berpotensi ikut naik dan berdampak pada inflasi serta biaya hidup masyarakat.
Di Asia, Jepang menjadi salah satu negara yang paling rentan. Sekitar 95 persen kebutuhan minyak Jepang berasal dari Timur Tengah, dan sebagian besar pasokan tersebut melewati Selat Hormuz. Gangguan pada jalur ini dapat langsung mengganggu pasokan energi Jepang, sekaligus memperparah inflasi yang sudah tinggi akibat pelemahan nilai tukar yen.
Negara berkembang seperti India juga disebut menghadapi tekanan besar seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan dan kenaikan harga energi di pasar global.

