Perang antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan terus berlarut lebih dari dua bulan, berbanding terbalik dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut Teheran dapat ditaklukkan dalam waktu singkat. Seiring konflik yang belum menunjukkan tanda berakhir, Trump kini menghadapi situasi yang dinilai jauh lebih kompleks daripada perkiraan awal.
Menurut laporan The New York Times, konflik yang semula diperkirakan berlangsung singkat berubah menjadi konfrontasi berbiaya tinggi tanpa tujuan akhir yang jelas, sekaligus terus mengguncang pasar energi global.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Pentagon menyebut operasi militer di Iran telah menghabiskan anggaran sekitar 25 miliar dolar AS, atau setara kurang lebih Rp400 triliun.
Di tengah tekanan ekonomi dan kecaman dari sekutu internasional, Trump tetap menyatakan keyakinannya bahwa keputusan tersebut tepat. Dalam pertemuan dengan para pendukungnya di Florida pada Jumat, 1 Mei 2026, Trump menyebut perang itu sebagai tindakan berani dan mengaku tidak ragu untuk mengulanginya.
Namun, optimisme Trump disebut mulai berbenturan dengan realitas politik di dalam negeri. Sejumlah anggota Partai Republik di Kongres AS dilaporkan menginginkan perang segera diakhiri.
Meski AS dan Israel disebut berhasil menghancurkan target-target strategis serta membunuh pemimpin senior Republik Islam, Teheran dilaporkan tetap bertahan dan mampu memberikan perlawanan kuat.
Trump kemudian berupaya membangun dukungan publik dengan membandingkan durasi konflik saat ini dengan perang Vietnam atau Irak. Akan tetapi, berbagai janji terkait terobosan diplomatik yang telah diisyaratkan sejak tiga minggu terakhir disebut belum terealisasi, termasuk harapan bahwa Teheran akan menyerahkan uranium yang sudah diperkaya atau bahwa harga bahan bakar akan segera turun.
Trump juga menyampaikan pesan yang dinilai kontradiktif mengenai masa depan negosiasi, dengan mengklaim kepemimpinan Teheran kini terpecah belah.
Sementara itu, konflik berkembang menjadi adu kekuatan di kawasan perairan dekat Selat Hormuz. AS dilaporkan terus mempertahankan blokade pelayaran, sedangkan Iran menolak tuntutan denuklirisasi.
Ketegangan di kawasan tersebut disebut turut memicu krisis global yang menyeret kekuatan besar lain, termasuk China dan negara-negara Eropa.