BERITA TERKINI
Pengamat: Serangan AS dan Israel ke Iran Berisiko Memperluas Konflik Global

Pengamat: Serangan AS dan Israel ke Iran Berisiko Memperluas Konflik Global

Jakarta — Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) pagi. Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai, konflik terbuka antara ketiga pihak tersebut berpotensi berkembang menjadi krisis yang berdampak luas, mengingat dinamika yang terjadi dinilai tidak lagi semata berskala regional.

Dalam keterangan tertulis yang dikutip Minggu (1/3/2026), Amir mengatakan Iran bukanlah aktor tunggal dalam konfigurasi geopolitik saat ini. Menurut dia, terdapat kepentingan strategis Rusia dan China di belakang Iran, sehingga eskalasi yang tidak terkendali dapat meningkatkan risiko konflik global.

Amir menjelaskan bahwa perang modern tidak selalu berbentuk konfrontasi langsung antarnegara besar. Ia menilai pola yang lebih mungkin terjadi adalah proxy war atau perang perwakilan, melalui jaringan sekutu di kawasan.

Ia menyebut Iran memiliki kelompok-kelompok sekutu di Timur Tengah, antara lain Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon Selatan. Jika konflik meningkat, kedua kelompok tersebut dinilai berpotensi menyerang kepentingan Israel maupun pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Di sisi lain, Amir menilai kedekatan strategis Iran dengan Rusia dan China dapat berpengaruh pada arah eskalasi, meski ia memandang kedua negara besar itu cenderung tidak akan terlibat secara langsung melawan AS dan Israel. Menurutnya, dukungan yang lebih realistis adalah bantuan di belakang layar, seperti suplai logistik, bantuan militer, teknologi drone, hingga sistem pertahanan udara.

Amir menegaskan bahwa keterlibatan langsung antara blok Barat dan blok Rusia–China merupakan garis merah yang berisiko memicu perang yang lebih luas. Karena itu, ia menilai situasi saat ini perlu diwaspadai agar tidak bergerak menuju konfrontasi terbuka antarkekuatan besar.

Ia juga menyoroti Selat Hormuz sebagai salah satu titik paling krusial. Jalur tersebut merupakan lintasan strategis distribusi minyak dunia. Amir memperingatkan, jika terjadi blokade oleh Iran atau gangguan militer di kawasan itu, harga minyak global berpotensi melonjak drastis.

Dampak kenaikan harga energi, menurut Amir, tidak hanya dirasakan negara-negara Timur Tengah, tetapi juga ekonomi global, termasuk Indonesia. Ia menyebut lonjakan harga energi dapat memicu inflasi domestik, menambah beban subsidi energi, memengaruhi nilai tukar rupiah, serta mengganggu stabilitas pasar saham.

“Perang besar di Timur Tengah hampir selalu berdampak pada krisis ekonomi global. Indonesia harus waspada,” kata Amir.

Dalam analisisnya, Amir memaparkan beberapa skenario yang dinilai dapat memperlebar konflik, yakni serangan balasan Iran ke Israel, serangan proxy terhadap pangkalan AS di kawasan Teluk, serta respons militer besar-besaran dari AS. Jika siklus tersebut berulang tanpa kanal diplomasi, ia menilai konflik dapat berubah menjadi perang regional besar dengan dampak global.

Amir juga menilai Indonesia perlu mengambil langkah strategis sesuai politik luar negeri bebas aktif. Ia menyarankan penguatan diplomasi melalui ASEAN dan PBB, menyiapkan mitigasi krisis energi, memastikan perlindungan warga negara Indonesia di Timur Tengah, serta memperkuat intelijen ekonomi dan keamanan.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Stabilitas global memengaruhi stabilitas nasional,” ujarnya.

Menurut Amir, eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran berpotensi menjadi titik temu rivalitas global antara blok Barat dan blok Rusia–China. Meski belum tentu berujung pada Perang Dunia III, ia menilai pola aliansi, perang proxy, serta kepentingan energi dunia membuat situasi ini berbahaya jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi.

“Dunia kini berada di persimpangan: de-eskalasi atau konfrontasi yang lebih luas. Indonesia pun dituntut untuk membaca situasi secara jernih dan menyiapkan langkah strategis menghadapi kemungkinan terburuk,” pungkasnya.