Konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran dinilai berpotensi meluas apabila negara besar lain yang dinilai pro-Iran, seperti Rusia atau China, ikut terlibat secara langsung. Penilaian itu disampaikan Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, saat ditemui wartawan di Jakarta, Rabu (4/3).
Menurut Jerry, keterlibatan kekuatan besar dapat mengubah skala konflik. Ia menyebut potensi konflik regional bisa bergeser menjadi krisis global jika negara-negara tersebut masuk secara langsung ke dalam eskalasi yang terjadi.
Meski demikian, Jerry menyatakan hingga saat ini belum terlihat indikasi keterlibatan militer langsung dari Rusia maupun China dalam konflik terbuka.
Jerry juga menyoroti faktor geopolitik dan energi yang dinilainya tidak bisa diabaikan. Kawasan Teluk, termasuk jalur strategis seperti Selat Hormuz, disebut sebagai jalur vital bagi distribusi minyak dunia. Ia menilai selama kepentingan energi dan keamanan regional menjadi taruhan, konflik akan terus memiliki dimensi strategis yang kompleks.
Terkait perbandingan kekuatan, Jerry menilai kemampuan militer Amerika Serikat dan Iran sangat timpang dan diibaratkan “langit dan Bumi.” Ia merujuk pada perbedaan anggaran pertahanan, dengan Amerika Serikat mengalokasikan sekitar 895 miliar dolar AS per tahun, sementara Iran berada di kisaran belasan miliar dolar AS.
Ia menambahkan, secara kuantitatif dan teknologi, kekuatan militer Amerika Serikat dinilai jauh di atas Iran, baik dari jumlah pesawat tempur, kapal induk, hingga sistem pertahanan rudal. Jerry mencontohkan penggunaan pesawat pembom siluman Northrop B-2 Spirit serta jet tempur generasi kelima Lockheed Martin F-22 Raptor yang disebut memiliki keunggulan dalam teknologi siluman dan daya hancur.
Selain itu, Amerika Serikat juga disebut memiliki kapal induk kelas dunia seperti USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln yang mampu membawa ribuan personel serta puluhan pesawat tempur dalam satu armada tempur. Menurut Jerry, dari sisi alutsista dan proyeksi kekuatan, Iran akan menghadapi tantangan besar jika berhadapan langsung dalam perang terbuka.
Namun, Jerry menekankan bahwa dinamika perang modern tidak semata ditentukan oleh angka dan anggaran. Ia menilai strategi, aliansi, serta stabilitas domestik masing-masing negara turut memengaruhi jalannya konflik. “Superioritas militer tidak selalu menjamin kemenangan cepat. Faktor diplomasi dan tekanan internasional juga sangat menentukan,” ujarnya.

