BERITA TERKINI
Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan, Indonesia Dinilai Berpeluang Jadi Lumbung Pangan Dunia

Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan, Indonesia Dinilai Berpeluang Jadi Lumbung Pangan Dunia

Di tengah meningkatnya ancaman krisis pangan global yang dipicu konflik geopolitik dan lonjakan harga energi, Indonesia disebut tengah menempuh langkah penguatan ketahanan pangan melalui peningkatan produksi dan modernisasi sektor pertanian. Pemerintah menargetkan kemandirian pangan nasional sekaligus membuka peluang menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Laporan terbaru World Food Programme (WFP) memperingatkan eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan akut ke level rekor pada 2026. Jika konflik berkepanjangan dan harga energi global tetap tinggi, hampir 45 juta orang tambahan diperkirakan dapat jatuh ke dalam kondisi rawan pangan akut.

Menanggapi situasi tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius sehingga setiap negara perlu memperkuat ketahanan pangan dan tidak bergantung pada negara lain. Pernyataan itu disampaikan Amran dalam keterangan tertulis, Selasa (24/03/2026).

Menurut Amran, kenaikan harga energi, gangguan jalur pelayaran internasional, serta meningkatnya biaya logistik berpotensi memicu inflasi pangan global seperti yang pernah terjadi saat perang Rusia–Ukraina pada 2022. Ia menilai dampak konflik tidak hanya dirasakan di wilayah perang, tetapi merambat ke berbagai negara melalui rantai pasok global, terutama negara yang bergantung pada impor pangan.

“Kalau terjadi krisis global, terlebih permasalahan geopolitik dari Iran versus Amerika dan Israel, yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri,” kata Amran.

Di tengah ancaman tersebut, Amran menilai Indonesia berada pada jalur yang tepat menuju kemandirian pangan. Program pembangunan pertanian pemerintah, menurutnya, tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun sistem pertanian yang kuat, modern, dan berkelanjutan. Pemerintah menargetkan swasembada pangan dan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Amran menyebut Indonesia memiliki modal berupa lahan, air, iklim, dan sumber daya manusia. Ia mengatakan, jika seluruh potensi itu dimaksimalkan, swasembada pangan dan target lumbung pangan dunia dinilai memungkinkan untuk dicapai.

Ia juga menyampaikan bahwa hasil strategi peningkatan produksi melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi secara bersamaan disebut sudah terlihat pada tahun lalu, ketika Indonesia dinyatakan berhasil mencapai swasembada pangan.

Intensifikasi dilakukan melalui peningkatan produktivitas lahan dengan benih unggul, mekanisasi pertanian, pompanisasi, serta peningkatan indeks pertanaman. Sementara itu, ekstensifikasi ditempuh melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa sebagai sumber produksi baru.

“Mandiri mutlak, swasembada mutlak. Kita tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan yang ada, tetapi juga membuka lahan baru melalui cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa. Semua harus kita optimalkan. Produksi harus naik secara signifikan,” ujarnya.

Amran menambahkan, pilar utama untuk mencapai swasembada pangan berkelanjutan adalah deregulasi serta transformasi pertanian dari tradisional menuju modern. Menurutnya, dua langkah tersebut menjadi kunci menjaga keberlangsungan produksi pertanian nasional di tengah tantangan global.

“Langkah kami ada dua untuk mencapai swasembada berkelanjutan. Keluar dari permasalahan geopolitik kita terus benahi aturan, deregulasi dan transformasi pertanian dari tradisional ke modern kita masifkan,” kata Amran.