BERITA TERKINI
Pakar UMSURA Minta Pembelajaran Daring Saat Wacana WFH Dibarengi Pedoman Jelas

Pakar UMSURA Minta Pembelajaran Daring Saat Wacana WFH Dibarengi Pedoman Jelas

Gejolak harga minyak dunia yang dipicu konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mendorong sejumlah negara di Asia menerapkan kebijakan penghematan, termasuk sistem kerja dari rumah (work from home/WFH). Di Indonesia, langkah efisiensi serupa mulai dipertimbangkan di berbagai sektor, termasuk pendidikan melalui rencana pembelajaran daring.

Menanggapi wacana tersebut, Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) Achmad Hidayatullah Ph.D. menilai pembelajaran daring kerap menjadi opsi paling mudah bagi pemerintah saat menghadapi situasi krisis, baik krisis ekonomi maupun keamanan. Namun, ia menekankan kebijakan itu tidak cukup hanya berupa instruksi tanpa regulasi dan pedoman yang jelas.

“Pemerintah sebaiknya tidak hanya sekadar memberi instruksi pembelajaran daring, tetapi juga membuat regulasi dan pedoman yang efektif. Misalnya bagaimana konsep deep learning atau pembelajaran mendalam bisa diterapkan dalam pembelajaran daring,” ujarnya, Selasa (24/3/26).

Hidayatullah merujuk pengalaman selama pandemi yang menunjukkan pembelajaran daring dapat menurunkan kualitas belajar apabila tidak dirancang dengan baik. Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada perkembangan kemampuan siswa yang menjadi lebih lambat.

“Diakui atau tidak, pembelajaran daring saat pandemi benar-benar menurunkan kualitas pembelajaran. Banyak siswa menjadi bosan dan dampaknya terlihat hingga sekarang, misalnya masih ada siswa SMP yang kesulitan membaca dan menghitung,” katanya.

Meski demikian, Dekan Fakultas Pendidikan Komunikasi dan Sains (FPKS) UMSURA itu menilai pembelajaran daring tetap berpeluang mendorong kemandirian belajar siswa apabila disusun secara mendalam. Ia menyebut penelitian yang dilakukannya bersama Csikos pada 2023 menunjukkan kemandirian dan kemampuan regulasi diri dalam pembelajaran daring dapat terbentuk ketika siswa merasa nyaman dan kompetensinya difasilitasi.

“Ketika siswa merasa nyaman dan kompetensinya terfasilitasi, mereka cenderung mampu meregulasi proses belajar mereka sendiri. Di sinilah pembelajaran daring bisa mendorong terbentuknya karakter mandiri,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai pembelajaran daring dapat berjalan efektif jika pemerintah menyusun panduan khusus berbasis deep learning yang menekankan pembelajaran menyenangkan sekaligus mendorong siswa mengelola proses belajarnya secara mandiri.

Terkait rencana kementerian yang membagi sistem pembelajaran—materi teori dilakukan secara daring sementara praktikum tetap tatap muka—Hidayatullah menilai kebijakan tersebut sudah tepat. Menurutnya, teori dapat dijalankan melalui dialog daring dan aktivitas membaca yang membutuhkan keterampilan regulasi diri, sedangkan praktik memerlukan aktivitas fisik dan pengalaman langsung.

“Materi teori bisa dilakukan melalui dialog daring dan kegiatan membaca yang membutuhkan keterampilan regulasi diri. Sementara praktik memerlukan aktivitas fisik dan pengalaman langsung, sehingga sulit dilakukan secara online,” katanya.

Ia mencontohkan praktikum di bidang biologi, kesehatan, maupun teknik yang membutuhkan penggunaan alat laboratorium sehingga tetap harus dilaksanakan secara langsung.

Selain itu, Hidayatullah juga mengingatkan agar pemerintah memberi kelonggaran bagi mahasiswa yang menyelesaikan penelitian tugas akhir seperti skripsi, tesis, maupun disertasi untuk tetap dapat datang ke kampus, termasuk mengakses perpustakaan.

“Mahasiswa yang mengerjakan tugas akhir sebaiknya tetap diperbolehkan mengakses perpustakaan. Penelitian membutuhkan literatur yang kuat, dan sering kali sumbernya ada pada buku-buku yang belum tersedia dalam bentuk digital,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebijakan serupa juga diterapkan oleh banyak perguruan tinggi di luar negeri saat pandemi, di mana mahasiswa yang melakukan praktikum dan penelitian tetap diizinkan mengakses laboratorium dan perpustakaan dengan pengaturan tertentu.