BERITA TERKINI
Jika Selat Hormuz Dibuka Kembali, Krisis Energi Global Dinilai Tak Langsung Mereda

Jika Selat Hormuz Dibuka Kembali, Krisis Energi Global Dinilai Tak Langsung Mereda

Iran telah menutup Selat Hormuz selama hampir empat minggu sebagai respons atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dimulai pada 28 Februari. Selat Hormuz merupakan jalur penting yang biasanya dilalui seperlima pasokan minyak mentah dunia serta sejumlah besar gas, sehingga penutupan jalur ini menghambat pasokan energi yang menopang perekonomian global.

Gangguan tersebut disebut memengaruhi sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia, yang kemudian mendorong kenaikan harga energi di berbagai negara. Namun, para ahli menilai pembukaan kembali Selat Hormuz tidak serta-merta membuat krisis energi global reda.

Direktur senior komunikasi korporat perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd, Nils Haupt, mengatakan bahwa ketika selat dibuka, justru berpotensi muncul gangguan baru pada rantai pasokan akibat lonjakan lalu lintas kapal menuju pelabuhan-pelabuhan utama di Teluk Persia. “Kita akan melihat ratusan kapal yang ingin singgah di pelabuhan-pelabuhan utama di Teluk Persia. Banyak kontainer yang masuk ke wilayah ini, dan kita akan melihat gangguan pada rantai pasokan yang menuju dan dari Teluk Persia,” kata Haupt.

Pandangan serupa disampaikan Svein Ringbakken, direktur pelaksana Norwegian Shipowners’ Mutual War Risks Association. Ia menyebut, sekalipun fasilitas logistik beroperasi penuh, tetap dibutuhkan waktu untuk mengurai penumpukan minyak, gas, dan barang lain yang sempat tertahan dan dibongkar dari kapal.

Ringbakken juga menilai pemulihan semakin sulit karena serangan-serangan yang disebut telah merusak infrastruktur energi dan transportasi di berbagai wilayah Timur Tengah. Menurut Badan Energi Internasional, lebih dari 40 aset energi di kawasan tersebut mengalami kerusakan parah atau sangat parah. Sejumlah perusahaan minyak dan gas, termasuk QatarEnergy, Kuwait Petroleum Company, dan Bapco Energies dari Bahrain, bahkan menyatakan keadaan kahar (force majeure) akibat gangguan produksi.

“Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengembalikan rantai pasokan pengiriman ke kondisi normal karena adanya penundaan,” ujar Ringbakken. Ia menambahkan, penghentian jalur produksi pada banyak produk akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan, ditambah kerusakan fasilitas produksi dan infrastruktur pelabuhan, akan menambah inefisiensi ketika selat kembali dibuka.

Saat ini, sekitar 2.000 kapal dilaporkan terjebak di wilayah tersebut di tengah blokade parsial Selat Hormuz. Iran disebut hanya mengizinkan beberapa kapal dari negara yang dianggap bersahabat untuk melintas. Sebagian kapal telah dialihkan melalui Terusan Suez atau mengambil rute yang lebih panjang untuk pengiriman ke Asia dan Eropa. Pengiriman minyak dari Arab Saudi juga dilaporkan dialihkan melalui Laut Merah untuk menghindari selat tersebut.