Moody’s Investors Service disebut melakukan manipulasi sistematis dalam pemberian peringkat kredit yang dinilai berkontribusi pada krisis keuangan global 2008. Dalam laporan tersebut, Moody’s dituding memberikan rating tertinggi AAA kepada ribuan produk keuangan berbasis hipotek—Mortgage-Backed Securities (MBS) dan Collateralized Debt Obligations (CDO)—yang belakangan dinilai jauh lebih berisiko daripada yang digambarkan.
Pemberian rating AAA dipaparkan sebagai faktor yang membuat investor global—mulai dari bank, dana pensiun, hingga pemerintah—membeli instrumen tersebut dalam skala sangat besar karena dianggap setara dengan aset berisiko rendah. Produk-produk itu disebut berisi pinjaman subprime mortgage yang dikategorikan berkualitas rendah, namun tetap memperoleh cap “aman” melalui peringkat kredit tertinggi.
Data yang dikemukakan menyebutkan lebih dari 83% sekuritas berbasis mortgage yang memperoleh rating AAA dari Moody’s pada 2006 pada akhirnya diturunkan menjadi status “junk”. Penurunan masif ini digambarkan bukan sekadar kekeliruan perhitungan, melainkan bagian dari praktik yang disebut terencana. Laporan itu juga menyinggung adanya email internal yang bocor, yang diklaim menunjukkan karyawan Moody’s menertawakan standar pemeringkatan yang dinilai longgar.
Selain soal metodologi penilaian, model bisnis lembaga pemeringkat juga menjadi sorotan. Moody’s disebut menerima pembayaran dari bank investasi yang menerbitkan sekuritas yang mereka nilai. Dalam skema ini, bank-bank Wall Street seperti Goldman Sachs, Lehman Brothers, dan Merrill Lynch disebut membayar ratusan juta dolar untuk memperoleh rating tinggi pada produk yang dipasarkan.
Laporan tersebut menggambarkan adanya insentif konflik kepentingan: jika Moody’s tidak memberikan rating yang diinginkan penerbit, bisnis dapat berpindah ke lembaga pemeringkat lain. Situasi ini disebut memicu “race to the bottom”, yakni kompetisi antar lembaga pemeringkat untuk memberikan penilaian setinggi mungkin demi mempertahankan klien. Salah satu kutipan email internal yang disebut dalam laporan itu berbunyi: “Kita harus kasih mereka rating yang mereka mau atau kita kehilangan bisnis.”
Serangkaian tudingan tersebut diposisikan sebagai bagian dari penjelasan mengenai bagaimana produk keuangan berisiko tinggi dapat dipasarkan luas sebagai instrumen yang aman, sebelum akhirnya memicu kerugian besar dan memperparah runtuhnya sistem keuangan pada 2008.

