Bank Indonesia (BI) menyatakan berada dalam mode kewaspadaan tinggi untuk memantau pergerakan pasar keuangan di tengah meningkatnya ketegangan global, terutama konflik di Timur Tengah. BI menegaskan langkah ini ditujukan untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap bergerak sesuai fundamental ekonomi dan tidak terseret spekulasi.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyampaikan bahwa respons kebijakan akan ditempuh secara presisi. Menurutnya, dinamika pasar akan dihadapi melalui bauran langkah yang terukur guna mempertahankan stabilitas nilai tukar.
Eskalasi ketegangan di Timur Tengah, khususnya setelah serangan Amerika Serikat terhadap Iran, memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global. Kondisi ini mendorong investor mengalihkan portofolio ke instrumen yang dinilai lebih aman, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang terdampak volatilitas.
BI menyatakan akan tetap hadir secara aktif di pasar valuta asing untuk meredam gejolak yang dinilai berlebihan. Upaya stabilisasi dilakukan melalui instrumen non-deliverable forward (NDF) di pasar domestik (onshore) maupun luar negeri (offshore). Selain itu, BI juga melakukan operasi di pasar spot sebagai upaya menjaga likuiditas jangka pendek.
Di sisi lain, bank sentral turut mengoptimalkan transmisi kebijakan suku bunga agar tetap efektif dalam menjaga stabilitas makroekonomi. BI menilai kepercayaan pelaku pasar menjadi faktor penting yang perlu dijaga di tengah meningkatnya tekanan eksternal.
Tekanan terhadap rupiah terlihat pada perdagangan Senin dini hari. Di pasar spot, rupiah melemah 0,45% terhadap dolar AS ke level Rp16.835 pada pukul 02.16 GMT, mencerminkan bahwa gejolak geopolitik global masih memengaruhi pergerakan kurs.

