BERITA TERKINI
Serangan AS-Israel ke Iran Dinilai Lebih Berisiko bagi Pasar Minyak Ketimbang Venezuela, Selat Hormuz Jadi Sorotan

Serangan AS-Israel ke Iran Dinilai Lebih Berisiko bagi Pasar Minyak Ketimbang Venezuela, Selat Hormuz Jadi Sorotan

Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran dinilai berisiko memicu gangguan besar pada pasokan minyak global, terutama karena posisi Iran yang strategis di dekat Selat Hormuz. Sejumlah analis menilai dampaknya berpotensi jauh lebih serius dibandingkan serangan AS ke Venezuela pada Januari lalu, yang efeknya terhadap pasar dinilai lebih terbatas.

Dalam skenario terburuk, eskalasi yang melibatkan Iran—anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)—dapat meningkatkan risiko resesi ekonomi global. Iran disebut sebagai produsen minyak terbesar keempat di OPEC, dengan produksi sedikit di atas 3 juta barel per hari pada Januari.

Perhatian utama pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur laut yang berbatasan dengan Iran dan menjadi salah satu titik terpenting bagi perdagangan energi dunia. Catatan menyebut sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia serta sekitar 20–25 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global melintasi selat tersebut. Karena itu, gangguan di jalur ini berpotensi mendorong harga energi internasional lebih tinggi.

Mantan penasihat energi Gedung Putih pada era Presiden George W. Bush, Bob McNally, menilai pasar minyak selama ini cenderung mengabaikan risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Ia mengatakan para pedagang meremehkan ancaman pembalasan Iran terhadap serangan AS yang bisa berdampak ke pasar minyak. “Ini benar-benar nyata,” kata McNally, dikutip dari CNBC, Senin (2/3/2026).

McNally memperkirakan harga minyak mentah berjangka berpeluang naik 5 hingga 7 dollar AS per barel. Pada hari Jumat, harga minyak mentah Brent ditutup di 72,48 dollar AS per barel, naik 1,73 dollar AS atau 2,45 persen. Sebagai perbandingan, harga Brent pada awal tahun berada di level 60,9 dollar AS per barel. Brent merupakan minyak acuan (benchmark) untuk sekitar dua pertiga pasokan minyak dunia.

Menurut laporan, Iran juga mengancam Presiden AS Donald Trump dengan membuat Selat Hormuz tidak aman bagi lalu lintas komersial. Jika ancaman itu terwujud, harga minyak disebut berpotensi melonjak di atas 100 dollar AS per barel. McNally menilai pasar belum memperhitungkan persediaan ranjau dan rudal jarak pendek yang dimiliki Teheran, yang dapat mengganggu lalu lintas di selat tersebut secara serius.

Risiko penutupan Selat Hormuz dan dampaknya

Data perusahaan konsultan energi Kpler menunjukkan lebih dari 14 juta barel per hari minyak mengalir melalui Selat Hormuz pada 2025, setara sekitar sepertiga dari total ekspor minyak mentah dunia melalui jalur laut. Sekitar tiga perempat dari volume tersebut dikirim ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan. China—ekonomi terbesar kedua dunia—disebut menerima setengah dari impor minyak mentahnya melalui selat tersebut.

“Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan akan menyebabkan resesi global,” kata McNally. Ia menambahkan, kapasitas minyak berlebih dunia berasal dari negara-negara Teluk. Jika selat ditutup, pasokan tersebut tidak dapat melewati jalur utama itu, sehingga pasar berisiko terisolasi dari suplai yang semestinya tersedia.

Selain minyak, sekitar 20 persen ekspor LNG dunia juga melintasi Selat Hormuz. Sebagian besar ekspor tersebut berasal dari Qatar dan dinilai sulit digantikan. McNally memperkirakan negara-negara Asia sebagai importir besar minyak dan gas dapat melakukan penimbunan jika menyadari selat ditutup, memicu “perang penawaran” di pasar energi.

Ia juga menilai harga minyak perlu naik cukup tinggi hingga memicu pelemahan ekonomi yang menurunkan permintaan, agar pasar kembali seimbang. Menurutnya, hanya sebagian kecil aliran minyak yang dapat dialihkan melalui jalur lain. Arab Saudi memiliki pipa dari pantai timur ke pantai barat di Laut Merah, sementara Uni Emirat Arab (UEA) memiliki pipa yang berakhir di Teluk Oman sehingga melewati Selat Hormuz.

Analis minyak Kpler, Matt Smith, menyebut lebih dari 20 juta barel minyak mentah telah dimuat untuk diekspor di Teluk dari Arab Saudi, Irak, UEA, Kuwait, dan Qatar. Ia mengatakan beberapa kapal tanker terpantau mengalihkan rute agar tidak melewati selat tersebut.

Cadangan minyak strategis AS

Di tengah risiko eskalasi, AS disebut memiliki opsi memanfaatkan cadangan minyak strategis. Direktur Pelaksana Riset di ClearView Energy Partners, Kevin Book, mengatakan pemerintahan Trump dapat menggunakan cadangan tersebut jika harga minyak melonjak. Data Departemen Energi AS mencatat cadangan minyak strategis AS berada di sekitar 415 juta barel.

Menurut laporan media pemerintah, Iran telah melancarkan serangan rudal ke pangkalan-pangkalan AS di Qatar, Kuwait, UEA, dan Bahrain. Serangan tersebut dinilai dapat memengaruhi lalu lintas melalui Selat Hormuz.

Perbedaan dampak dibanding Venezuela

Serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada hari Sabtu disebut menjadi kali kedua pemerintahan Trump menyerang negara penghasil minyak utama tahun ini. Analis menilai konsekuensi terhadap pasar global kali ini bisa jauh lebih parah dibanding dampak pasar yang terbatas setelah invasi militer AS ke Venezuela pada Januari.

Penutupan Selat Hormuz—yang lebarnya hanya 21 mil di titik tersempit—juga disebut sebagai langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mantan Presiden Irak Saddam Hussein pernah berupaya memprovokasi Teheran untuk menutup lalu lintas selat itu selama perang Iran-Irak pada 1980-an, namun Iran tetap mengizinkan kapal-kapal melintas.

Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman juga sempat mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden, wilayah yang menjadi target mereka dalam serangan yang dimulai pada 2023.

Direktur Inisiatif Keamanan Energi dan Iklim di Brookings Institute, Samantha Gross, menekankan Iran adalah produsen minyak yang lebih besar dibanding Venezuela. “Sehingga konsekuensi dari gangguan tersebut bisa lebih besar,” ujarnya, dikutip dari Politico. Menurutnya, lokasi strategis Iran di “titik rawan minyak terpenting di dunia” membuat situasi ini berpotensi berdampak signifikan pada pasar, tidak hanya di AS.

Gross juga menyoroti dampak politik yang dapat menyeret China, yang membeli sekitar 90 persen ekspor Iran atau sekitar 1,5 juta barel per hari. Gangguan pasokan besar dapat meningkatkan biaya energi global dan mendorong harga bensin lebih tinggi bagi warga AS.

Peluang produksi dan kondisi infrastruktur

Analis pasar RBN Energy, Robert Auers, menilai jika serangan AS dan permusuhan internal di Iran membantu menggulingkan rezim, ladang minyak Iran dapat menjadi peluang besar bagi perusahaan minyak internasional untuk memperluas produksi. Ia mengatakan Iran berada di bawah sanksi yang melumpuhkan, namun infrastrukturnya dianggap kokoh secara struktural, tidak seperti Venezuela.

Auers juga menilai sektor hulu dan hilir Iran dikelola lebih baik dibanding Venezuela. Menurutnya, ada potensi peningkatan produksi dalam waktu relatif cepat, dengan tambahan sekitar 500.000 hingga 1 juta barel per hari.