Jakarta (ANTARA) – Eskalasi konflik di Timur Tengah yang dikaitkan dengan kematian Ali Khamenei dinilai berpotensi meluas dari guncangan politik kawasan menjadi ancaman terhadap stabilitas energi dan ekonomi dunia. Kekhawatiran utama muncul setelah Pasukan Garda Revolusi Iran dilaporkan mengumumkan larangan pelayaran, dengan menyatakan tidak ada kapal yang diizinkan melintas, sebuah langkah yang secara efektif memblokade jalur perdagangan energi global.
Situasi keamanan yang memburuk juga dilaporkan mendorong sejumlah kapal tanker dan perusahaan pelayaran internasional menghentikan operasi di kawasan tersebut. Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, risiko yang dihadapi tidak lagi terbatas pada konflik militer regional, melainkan dapat berkembang menjadi krisis energi global yang memicu lonjakan harga minyak hingga kisaran 120 sampai 150 dolar AS per barel.
Selat Hormuz selama ini dipandang sebagai jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Ketegangan di kawasan tersebut kerap segera direspons pasar karena gangguan sekecil apa pun dapat berdampak besar terhadap pasokan global.
Selat Hormuz dan perannya dalam pasokan energi dunia
Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudera Hindia. Meski kecil secara geografis, perannya sangat besar secara ekonomi. Lebih dari 20 juta barel minyak mentah melewati selat ini setiap hari, atau sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia.
Negara-negara produsen utama di kawasan Teluk sangat bergantung pada jalur ini untuk ekspor, sementara negara-negara konsumen besar di Asia dan Eropa membutuhkan stabilitas Selat Hormuz agar aktivitas industri dan ekonomi tetap berjalan.
Kerentanan Selat Hormuz juga terkait minimnya jalur alternatif yang mampu menggantikan kapasitasnya dalam waktu cepat. Jalur pipa darat memang tersedia, namun kapasitasnya terbatas dan tidak dapat menyalurkan seluruh volume minyak yang biasanya melewati selat tersebut. Karena itu, Selat Hormuz kerap disebut sebagai titik kegagalan tunggal dalam sistem energi global.
Risiko penutupan dan potensi lonjakan harga
Penutupan Selat Hormuz dipandang bukan sekadar manuver simbolik, melainkan pukulan langsung terhadap sistem energi global. Pasar minyak dikenal sangat sensitif terhadap risiko geopolitik. Gangguan pasokan, bahkan yang berskala kecil, dapat memicu kenaikan harga yang signifikan.
Dalam laporan tersebut, analis pasar energi—termasuk dari lembaga analisis pelayaran energi Kpler—memperingatkan bahwa gangguan serius di Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak naik ke kisaran 120 hingga 150 dolar AS per barel. Lonjakan tidak hanya dipicu berkurangnya pasokan fisik, tetapi juga meningkatnya premi risiko, termasuk kenaikan biaya asuransi kapal tanker, penundaan pengiriman, serta meningkatnya ketidakpastian pasokan.
Dampak global jika harga minyak menembus 120 dolar AS
Jika harga minyak mencapai 120 dolar AS per barel, dampaknya diperkirakan meluas ke banyak sektor. Minyak menjadi fondasi penting bagi transportasi, industri, serta berbagai rantai produksi, termasuk pangan dan barang konsumsi.
Kenaikan harga minyak biasanya diikuti peningkatan biaya transportasi dan mendorong harga barang naik, sehingga inflasi menjadi lebih sulit dikendalikan. Dalam kondisi tertentu, lonjakan harga minyak dapat menekan daya beli, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan dalam sejumlah pengalaman historis disebut kerap menjadi pemicu resesi global karena meningkatnya biaya produksi dan melemahnya konsumsi.
Asia disebut berpotensi menjadi kawasan yang paling terdampak, mengingat sebagian besar minyak dari kawasan Teluk mengalir ke pasar Asia. Gangguan di Selat Hormuz berisiko meningkatkan biaya produksi industri dan mendorong kenaikan harga barang secara lebih luas.
Kerentanan Indonesia sebagai pengimpor minyak
Indonesia dinilai berada dalam posisi rentan terhadap lonjakan harga minyak dunia. Sebagai pengimpor minyak bersih, kenaikan harga akan langsung terasa melalui meningkatnya biaya impor energi. Jika harga minyak mencapai 120 dolar AS per barel, tekanan terhadap anggaran negara berpotensi meningkat karena beban subsidi energi membengkak.
Selain itu, kebutuhan devisa untuk impor energi dapat meningkat dan menekan nilai tukar rupiah. Pelemahan kurs akan membuat biaya impor semakin mahal dan menambah tantangan pengendalian inflasi. Dalam situasi tersebut, kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri disebut menjadi sulit dihindari, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Efek berantai dari kenaikan harga energi diperkirakan menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari peningkatan biaya transportasi, kenaikan harga bahan pokok, hingga penurunan daya beli. Dampak akhirnya dapat berupa perlambatan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya risiko terhadap stabilitas ekonomi.
Ketahanan energi sebagai agenda jangka panjang
Krisis Selat Hormuz disebut dapat menjadi peringatan bagi Indonesia mengenai pentingnya ketahanan energi nasional. Ketergantungan pada impor minyak selama bertahun-tahun membuat Indonesia rentan terhadap gejolak geopolitik global, di mana konflik di Timur Tengah kerap diikuti kenaikan harga energi di dalam negeri.
Dalam naskah tersebut, penguatan ketahanan energi antara lain disebut dapat dilakukan melalui peningkatan produksi dalam negeri, reaktivasi sumur-sumur tua yang masih potensial, serta penguatan infrastruktur energi. Namun, langkah-langkah itu dinilai memerlukan visi jangka panjang dan keberanian politik untuk menempatkan energi sebagai prioritas nasional.
Selat Hormuz mungkin hanya jalur sempit di peta, tetapi gangguan di titik ini dapat berdampak luas terhadap stabilitas global. Dalam situasi ketidakpastian, ketahanan energi disebut menjadi faktor penting agar negara mampu menghadapi gejolak harga dan pasokan energi dunia.

