Perang antara Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, Israel, melawan Iran dilaporkan terus berlanjut setelah rangkaian serangan sejak 28 Februari. Dalam perkembangan yang dikabarkan sejumlah media internasional dan disebut telah dikonfirmasi oleh Iran serta pihak AS–Israel, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas pada 1 Maret.
Televisi pemerintah Iran, IRIB, menyiarkan kabar meninggalnya Khamenei. Seorang penyiar menyampaikan berita tersebut sambil menangis dan menyebut Khamenei “syahid”. Setelah itu, dilaporkan ratusan ribu orang turun ke jalan untuk berunjuk rasa selama masa berkabung, sementara Iran mengumumkan masa berkabung 40 hari.
Kantor berita Fars melaporkan Khamenei tewas di kediamannya saat serangan terjadi pada Sabtu pagi. Disebutkan pula Khamenei tewas bersama anak dan cucunya.
Di sisi militer, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menunjuk Ahmad Vahidi sebagai komandan baru untuk menggantikan Mohammad Pakpour yang juga dilaporkan tewas dalam serangan AS dan Israel. Selain Khamenei dan Pakpour, laporan juga menyebut sejumlah pejabat dan petinggi militer Iran turut tewas, di antaranya Kepala Staf militer Iran Abdulrahim Mousavi, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, serta Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer AS dan Israel. Mengutip pernyataan Pasukan Iran melalui Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, serangan itu disebut menargetkan 14 pangkalan militer penting AS di kawasan Timur Tengah, serta sejumlah pusat keamanan dan militer Israel. Media Iran, Tasnim, mengutip klaim bahwa “ratusan orang dari pasukan agresor AS dan pasukan rezim Israel tewas”, namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari AS atau pihak sekutu terkait jumlah korban.
Di tengah eskalasi tersebut, perhatian dunia juga tertuju pada Selat Hormuz, jalur perairan sempit antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman dan Samudera Hindia. Selat ini dikenal sebagai salah satu titik sempit strategis (choke point) paling penting dalam perdagangan minyak global.
Menurut data Dana Moneter Internasional (IMF) per Februari 2026, sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia setiap hari melewati Selat Hormuz. Negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak menggunakan rute ini untuk mengekspor minyak ke Asia, Eropa, dan Amerika. Karena itu, jika jalur tersebut terganggu akibat konflik, pasokan energi global berisiko menyusut dan memicu lonjakan harga minyak mentah, sekaligus meningkatkan volatilitas pasar keuangan global, khususnya sektor energi dan nilai tukar mata uang.
Lembaga riset Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai gangguan di Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak mentah dunia naik hingga kisaran US$100–120 per barel. Celios juga mengingatkan bahwa situasi perang meningkatkan risiko kenaikan harga bahan bakar.
Konflik di Timur Tengah turut dikaitkan dengan kenaikan harga emas dalam enam bulan terakhir. Dalam periode itu, kenaikan emas tercatat mencapai 48,4%. Celios menilai kondisi ini dapat mendorong perpindahan sebagian investor dan kelompok berpenghasilan tinggi ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas.
Celios juga menyoroti potensi tekanan terhadap masyarakat yang menyimpan aset dalam rupiah di tengah ketidakpastian global. Dalam pandangan mereka, jika kelompok berpendapatan tinggi memilih menahan belanja dan mengalihkan dana ke aset aman, aktivitas ekonomi berisiko melambat.
Dampak lanjutan yang dikhawatirkan adalah penurunan disposable income atau pendapatan yang bisa dibelanjakan, terutama pada kelompok kelas menengah, yang kemudian dapat berimbas pada warga berpenghasilan rendah. Celios menilai situasi bisa memburuk bila perang mengganggu rantai pasok. Untuk konteks Indonesia, Celios menyebut kondisi diperberat oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai memicu kenaikan harga pangan seperti ayam, telur, beras, sayuran, dan komoditas lain.
Di sisi fiskal, Celios menyatakan pemerintah baru menarik utang baru pada Februari senilai Rp75,6 triliun, yang mereka sebut sebagai penarikan utang valuta asing terbesar sejak 2017. Dalam penilaian Celios, ruang kebijakan pemerintah menjadi terbatas jika tekanan ekonomi global meningkat.
Celios menyarankan warga dengan keterbatasan finansial memperkuat gerakan akar rumput berbasis solidaritas warga, seperti “warga jaga warga”. Mereka juga menyampaikan imbauan agar masyarakat tidak semata-mata merespons situasi dengan menahan belanja secara berlebihan, seraya berharap konflik segera mereda agar tekanan ekonomi tidak membesar.

