JAKARTA — Seminar bertajuk “Perempuan Pemimpin: Meneruskan Api Kartini di Era Krisis Energi & Ekonomi” yang diselenggarakan Netralnews.com pada 30 April 2026 menghadirkan sejumlah narasumber, salah satunya Direktur sekaligus Chief Legal & Government Relations Officer PT Prudential Life Assurance, Mercy Francisca Sinaga.
Kegiatan yang digelar dalam rangka Peringatan Hari Kartini 2026 itu didukung oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM), PT Prudential Life Assurance, PT Pegadaian (Persero), PT Pertamina Patra Niaga, dan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. Seminar ini menjadi ruang diskusi bagi perempuan untuk memperkuat peran kepemimpinan di tengah tantangan krisis global yang kian kompleks.
Dalam pemaparannya, Mercy menilai krisis energi dan ekonomi menuntut pemimpin—khususnya perempuan—memiliki fondasi kuat dalam mengambil keputusan. Ia menekankan integritas sebagai dasar utama kepemimpinan. “Integritas adalah dasar utama dalam kepemimpinan. Tanpa itu, kepercayaan akan sulit dibangun, terutama di tengah situasi krisis,” ujarnya.
Mercy juga memperkenalkan konsep Lead Together yang menekankan empat nilai utama, yakni integritas, ketekunan (persistence), konsistensi, dan komitmen. Menurutnya, keempat prinsip tersebut penting untuk menjaga arah organisasi di tengah perubahan yang cepat.
Ia turut menyoroti keunggulan perempuan dalam memimpin, terutama dalam membangun keseimbangan berbagai aspek kehidupan. Mercy menyebut empat elemen yang perlu dijaga, yakni rumah (home), komunitas (community), refleksi diri (reflection), dan pekerjaan (work). “Perempuan memiliki perspektif yang komprehensif. Kemampuan mengelola berbagai peran justru menjadi kekuatan dalam kepemimpinan,” katanya.
Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang hukum korporasi, regulasi, dan kebijakan publik, Mercy menekankan pentingnya konsistensi dalam menghadapi dinamika bisnis dan kebijakan yang terus berubah. Ia menyatakan pemimpin tidak hanya dituntut responsif, tetapi juga mampu menjaga arah jangka panjang.
Mercy mendorong perempuan untuk berani mengambil peran strategis, baik di organisasi maupun sektor publik. Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan menjadi faktor penting untuk mendorong kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan.
Seminar ini juga diisi diskusi interaktif yang memberi ruang bagi peserta untuk bertanya dan berbagi pengalaman terkait tantangan kepemimpinan di lingkungan masing-masing. Sejumlah peserta menyoroti isu kepercayaan diri, peluang karier, hingga hambatan struktural yang masih dihadapi perempuan di dunia kerja. Menanggapi hal itu, Mercy menekankan pentingnya keberanian mengambil peran serta terus meningkatkan kapasitas diri.
Ia menambahkan, dinamika krisis global saat ini juga membuka peluang bagi perempuan untuk menunjukkan peran strategis di sektor bisnis maupun kebijakan publik. Dengan kepemimpinan yang adaptif dan berbasis nilai, perempuan dinilai dapat berkontribusi mendorong keputusan yang lebih inklusif serta responsif terhadap perubahan.