BERITA TERKINI
Menteri Ekonomi ASEAN Serukan Stabilitas Jalur Maritim dan Rantai Pasok di Tengah Gangguan Selat Hormuz

Menteri Ekonomi ASEAN Serukan Stabilitas Jalur Maritim dan Rantai Pasok di Tengah Gangguan Selat Hormuz

Para menteri Dewan Komunitas Ekonomi ASEAN (AECC) menegaskan pentingnya menjaga rantai pasok global serta jalur perdagangan maritim yang stabil, aman, dan berkelanjutan di tengah gangguan di Selat Hormuz yang dipicu perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Dalam pertemuan melalui konferensi video pada 30 April, para menteri ekonomi negara anggota ASEAN menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi di Selat Hormuz. Jalur tersebut dilaporkan dilalui seperempat ekspor minyak dan gas alam cair global, sehingga gangguan yang terjadi dinilai telah memicu krisis energi dan berdampak luas terhadap perdagangan, pangan, dan sektor keuangan.

Dalam pernyataan bersama yang dimuat di laman Keketuaan Filipina untuk ASEAN 2026 pada Senin (4/5), AECC menekankan perlunya menjaga jalur laut tetap aman dan terbuka untuk meminimalkan gangguan terhadap arus perdagangan energi. Para menteri juga menyoroti pentingnya memastikan kebebasan navigasi serta jalur transit kapal dan pesawat yang aman, tanpa hambatan, dan berkelanjutan di selat yang digunakan untuk navigasi internasional, sesuai dengan hukum internasional, termasuk Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS).

Selain itu, para menteri memperkuat komitmen untuk menerapkan perjanjian ASEAN dan menahan diri dari penerapan langkah non-tarif yang tidak perlu maupun kebijakan lain yang berpotensi menghambat perdagangan, terutama untuk energi, pangan, dan komoditas penting lainnya.

Sambil terus memantau perkembangan di Timur Tengah, ASEAN menyatakan akan memperkuat kerja sama, termasuk dengan mitra eksternal, untuk merespons krisis dan mendukung ketahanan kawasan.

AECC juga menugaskan pejabat ekonomi senior dan badan-badan sektoral terkait untuk memantau serta menilai perkembangan, sekaligus menyusun strategi regional yang komprehensif dan terpadu guna mengatasi dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah.

Selat Hormuz disebut masih menjadi “titik api” sejak konflik antara AS dan Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari. Dalam perkembangan berikutnya, Iran merebut kendali atas jalur maritim strategis tersebut sebagai balasan atas serangan AS dan Israel. Belakangan, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di selat itu setelah negosiasi damai dilaporkan gagal usai berakhirnya gencatan senjata.