BERITA TERKINI
Menlu Iran: Diplomasi dan Perang Sama-sama Opsi dalam Membela Kedaulatan

Menlu Iran: Diplomasi dan Perang Sama-sama Opsi dalam Membela Kedaulatan

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Iran siap menempuh jalur diplomasi maupun konfrontasi dalam membela kedaulatannya, meski menegaskan negaranya tidak menginginkan perang. Pernyataan itu disampaikan di tengah pembicaraan yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat.

Berbicara dalam Konferensi Nasional tentang Kebijakan dan Sejarah Hubungan Luar Negeri di Iran, Araghchi mengatakan pembicaraan dengan Washington tidak akan menghasilkan kesepakatan “kecuali pihak lain menghormati dan mengakui hak-hak rakyat Iran.” Ia menegaskan Iran “tidak menerima perintah apa pun” dan menyebut tidak ada solusi selain melalui negosiasi, dengan tujuan mengamankan kepentingan nasional melalui pendekatan yang menghormati hak-hak rakyat Iran.

Araghchi juga menolak anggapan bahwa tekanan atau ancaman militer dapat memaksa Iran mengubah posisinya. “Beberapa orang berpikir menyerang Iran akan memaksanya untuk menyerah; ini tidak mungkin terjadi,” ujarnya.

Dalam perbandingan historis, ia mengontraskan sikap pemerintah saat ini dengan era Shah. Menurut Araghchi, “Shah pergi ke mana pun mereka mau,” sementara Iran saat ini disebutnya “berdiri teguh dan tidak akan menyerahkan hak-haknya.” Ia menambahkan Iran mampu menempuh diplomasi dan juga berperang bila diperlukan. “Jika mereka memilih jalan diplomasi, kami siap untuk itu,” katanya.

Terkait program nuklir, Araghchi menegaskan Iran tetap pada pendiriannya, termasuk soal pengayaan uranium. Ia menyatakan Iran tidak akan menerima tuntutan untuk menghapus kegiatan pengayaan uranium sepenuhnya. “Tidak ada pihak yang berhak menuntut agar kami menghilangkan pengayaan uranium sepenuhnya,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Minggu (8/2) menyebut negosiasi terbaru antara Iran dan Amerika Serikat—yang disebut berlangsung dengan dukungan pemerintah-pemerintah sahabat di kawasan—sebagai “langkah maju.” Ia menegaskan dialog tetap menjadi pendekatan strategis Tehran untuk menyelesaikan perselisihan secara damai.

Pezeshkian mengatakan sikap nuklir Iran didasarkan pada kerangka hukum dalam Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT). Ia menambahkan, “Rakyat Iran selalu membalas rasa hormat dengan rasa hormat, tetapi mereka tidak menerima bahasa paksaan dan ancaman.”

Sesi negosiasi terbaru disebut sebagai kontak langsung pertama antara Iran dan Amerika Serikat sejak agresi yang dilancarkan oleh “Israel” dan AS terhadap Iran pada Juni. Pada Jumat, kantor berita negara Iran, IRNA, melaporkan bahwa tercapainya pernyataan politik setelah putaran pertama pembicaraan nuklir tidak langsung dapat menjadi langkah konstruktif untuk meredakan ketegangan regional, dengan menyediakan kerangka kerja penyelesaian isu nuklir Iran.

IRNA juga menyebut Iran dan AS kini memiliki pemahaman yang lebih jelas dan realistis mengenai biaya konfrontasi, serta kebutuhan bersama untuk mengelola krisis.