PURWOKERTO – Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) dini hari waktu setempat diperkirakan menjadi titik balik besar bagi dinamika politik dan keamanan di Timur Tengah. Dunia kini menunggu arah kebijakan baru Teheran di tengah masa berkabung nasional selama 40 hari.
Pengamat Hubungan Internasional FISIP Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Dr Agus Haryanto, menilai konfirmasi resmi pemerintah Iran melalui media Fars menandai berakhirnya era kepemimpinan Khamenei yang telah berlangsung lebih dari tiga dekade. Menurutnya, peristiwa ini menjadi tantangan eksistensial bagi Iran, baik dalam konteks perang yang sedang dihadapi maupun konstelasi politik domestik.
“Ini akan jadi tantangan besar untuk masa depan Iran, tidak hanya soal perang yang sekarang dihadapi, tetapi juga konstelasi politik dalam negeri,” kata Agus, Minggu (1/3/2026).
Agus menilai kematian Khamenei pada fase awal konflik merupakan kejutan besar bagi dunia internasional. Ia memperkirakan reaksi keras dapat muncul dari faksi-faksi sekutu Iran di kawasan, seperti Hizbullah di Lebanon dan militan di Yaman.
Ia juga menduga Iran akan menempuh rangkaian serangan balasan yang lebih besar, terutama dengan menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. “Saya menduga akan menimbulkan reaksi dari sekutu Iran. Iran kemungkinan besar akan melakukan serangkaian serangan balasan yang lebih besar, terutama menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah,” ujarnya.
Berdasarkan laporan Times of Israel, kompleks kediaman Khamenei disebut menjadi sasaran sekitar 30 bom dalam serangan yang dikaitkan dengan koordinasi intelijen antara Israel dan Amerika Serikat.
Meski demikian, Agus mengingatkan bahwa Khamenei sebelumnya disebut telah menyiapkan skenario perang jangka panjang serta menunjuk sosok pengganti untuk menjaga kelangsungan revolusi.
Di sisi lain, wafatnya tokoh sentral Iran itu dinilai turut menempatkan diplomasi Indonesia dalam situasi yang tidak mudah. Agus menyoroti posisi Indonesia sebagai negara yang aktif dalam Board of Peace (BoP) dan rencana pengiriman pasukan ke Gaza, yang menurutnya dapat membuat langkah Indonesia berada dalam sorotan internasional.
Agus menilai keterlibatan Indonesia dalam agenda internasional yang didukung Barat dapat memunculkan persepsi bahwa Jakarta cenderung mengikuti garis kebijakan Amerika Serikat. “Publik global mungkin melihat kita lebih cenderung mengikuti agenda AS. Situasi ini bisa berubah jika ada desakan besar dari publik dalam negeri yang meminta pemerintah menarik diri dari BoP,” katanya.
Menurut Agus, kematian Khamenei—yang menjabat sejak 1989—bukan hanya meninggalkan kekosongan kekuasaan di Iran, tetapi juga mendorong negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk menghitung ulang langkah diplomasi di tengah konflik Iran-Israel yang kian memanas.

