Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan krisis di Gaza bersifat sangat unik dan sejauh ini tidak dapat diselesaikan oleh lembaga-lembaga internasional yang saat ini sudah ada.
Pernyataan itu disampaikan Rubio saat memaparkan visi strategis Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) dalam pertemuan perdana dewan tersebut di Washington DC.
“Ini adalah krisis yang sangat unik di Gaza, yang tidak dapat diselesaikan atau dipecahkan oleh lembaga-lembaga internasional yang ada. Situasi ini membutuhkan solusi yang sangat spesifik, yang memerlukan kemitraan dari semua negara yang hadir di sini, termasuk mereka yang hadir sebagai pengamat,” kata Rubio.
Rubio mengatakan pertemuan perdana anggota BoP dapat terlaksana berkat Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menurutnya memiliki kemampuan sekaligus kemauan untuk menggunakan kewenangan jabatannya guna membuat terobosan dalam mencari solusi untuk Gaza.
Ia menilai situasi di Gaza saat ini mustahil diselesaikan dengan pendekatan lama atau melalui struktur yang sudah ada. Karena itu, para inisiator BoP meminta persetujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membentuk kelompok tersebut, sekaligus menghimpun berbagai negara guna merumuskan solusi yang sangat spesifik bagi Gaza.
Rubio menekankan bahwa proses tersebut masih panjang dan membutuhkan kerja lanjutan dari seluruh pihak yang terlibat. “Kita masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Ini akan membutuhkan kontribusi dari setiap negara yang diwakili di sini hari ini,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan harapan agar keterlibatan negara-negara dalam BoP dapat menjadi model penanganan untuk situasi lain yang dinilai kompleks dan sulit. “Kami berterima kasih atas keterlibatan Anda, dan kami berharap ini dapat menjadi model bagi situasi-situasi kompleks dan sulit lainnya agar dapat diselesaikan dengan cara yang sama,” katanya kepada perwakilan pemerintah yang hadir.
Menegaskan visi BoP, Rubio menyatakan kelompok tersebut harus memastikan langkah yang diambil tepat dan tidak memiliki rencana alternatif. Menurutnya, keberadaan rencana cadangan berarti kembali ke perang, sesuatu yang tidak diinginkan siapa pun.
“Rencana A, satu-satunya jalan ke depan, adalah membangun kembali Gaza dengan cara yang menciptakan perdamaian yang langgeng dan berkelanjutan, di mana semua orang dapat hidup berdampingan tanpa harus khawatir kembali pada konflik, perang, penderitaan manusia, dan kehancuran,” kata Rubio.

