Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi spekulasi yang menyamakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini dengan krisis 1998. Ia menilai narasi tersebut tidak didukung data dan berpotensi menyesatkan.
Purbaya menjelaskan, krisis 1998 terjadi setelah ekonomi mengalami kontraksi dalam periode yang cukup panjang. Ia menyebut pada saat itu pemerintahan jatuh setelah ekonomi berada dalam kondisi resesi selama satu tahun penuh.
“Mereka prediksi 98 akan terjadi lagi kan katanya. Anda perhatikan, 98 jatuh pemerintahan setelah ekonomi resesi selama satu tahun penuh,” ujar Purbaya dalam konferensi pers, Selasa (5/5/2026).
Menurutnya, situasi saat ini berbeda karena perekonomian disebut masih berada dalam fase ekspansi dan akselerasi. Karena itu, ia menilai perbandingan dengan krisis masa lalu tidak relevan.
“Kita sekarang boro-boro resesi, masih ekspansi, Masih akselerasi. Jadi itu kondisi sekarang. Jadi kalau itu bikin-bikin cerita, Jangan asal bikin cerita, lihat data yang betul,” kata Purbaya.
Ia menegaskan pemerintah terus memantau perkembangan ekonomi dan memastikan kebijakan yang diambil berbasis data yang akurat.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga menanggapi isu pelemahan rupiah yang dikaitkan dengan kondisi fiskal Indonesia. Ia menilai anggapan bahwa fiskal goyah tidak sepenuhnya sejalan dengan data, terutama jika melihat kekuatan fundamental ekonomi nasional, termasuk ketahanan energi.
“Orang juga banyak bilang, Indonesia fiskalnya goyah. Maka rupiahnya lemah-lemah dan lain-lain. Kalau rupiah nanti tanya BI ya, jangan tanya saya, mereka yang berhak menjawab. Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi, kita itu amat kuat,” ujarnya.
Purbaya merujuk pada sejumlah kajian internasional yang menempatkan Indonesia pada peringkat atas dalam ketahanan energi menghadapi potensi krisis global. “Itu nomor dua tuh. Perbandingan ketahanan energi terhadap krisis energi global. Kalau ada krisis global, Kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain,” katanya.
Ia kembali menekankan bahwa narasi yang menyamakan kondisi saat ini dengan krisis 1998 tidak tepat. Purbaya mengingatkan publik agar tidak terjebak pada spekulasi yang tidak berbasis data dan menyatakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini tetap stabil serta terkendali.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menyampaikan penjelasan terkait pelemahan rupiah yang disebut telah menembus Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat. BI menyatakan pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga kini masih sejalan dengan mayoritas mata uang negara emerging market.
“Pergerakan Rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan BI, Selasa (5/5/2026).
BI menyebut pelemahan nilai tukar juga terjadi pada sejumlah mata uang lain, antara lain Philippine Peso yang melemah 6,58%, Thailand Baht 5,04%, India Rupee 4,32%, Chile Peso 4,24%, Indonesia Rupiah 3,65%, dan Korea Won 2,29%.
Erwin mengatakan BI terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai nilai fundamentalnya. BI akan mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
“Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah,” pungkasnya.