Jakarta — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimistis terhadap daya tahan ekonomi Indonesia di tengah potensi guncangan global. Ia menyebut, berdasarkan data lembaga keuangan internasional, Indonesia berada pada posisi yang dinilai sangat stabil dibanding sejumlah negara maju.
“Kalau ada krisis global kita nomor 2 paling kuat dibanding negara-negara lain, bahkan di atas Amerika Serikat, di atas China, di atas Australia dan lain-lain,” kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Selasa (05/05/2026).
Purbaya merujuk laporan JP Morgan yang, menurutnya, menempatkan Indonesia pada peringkat kedua dalam ketahanan energi terhadap krisis energi global. Ia mengatakan ketahanan energi Indonesia tercatat 77%, hanya di bawah Afrika Selatan yang disebut sebesar 79%.
Dalam perbandingan yang ia sampaikan, angka Indonesia berada di atas China 76%, Amerika Serikat 70%, Australia 68%, dan Swedia 66%.
Ia menambahkan, laporan tersebut juga mengelompokkan Indonesia ke kategori negara dengan eksposur rendah terhadap krisis serta memiliki buffer yang kuat. Purbaya menyebut negara lain yang masuk kelompok serupa antara lain Rusia, Arab Saudi, Brazil, Argentina, dan Turki.
Selain JP Morgan, Purbaya mengatakan Asian Development Bank (ADB) juga melakukan studi serupa. Menurutnya, hasil kajian ADB tidak dipublikasikan.
“Ini dari JP Morgan, ADB juga melakukan studi yang sama, cuma mereka enggak bisa publish, karena kalau publish nanti negara-negara yang di bawah guncang, jadi mereka yang di bawah minta jangan dipublished,” ujarnya.
Purbaya menegaskan, berdasarkan pernyataan resmi ADB yang ia terima, Indonesia juga berada di posisi dua teratas.
“Tapi official ADB bilang sama saya kita di atas, top 2 juga, jadi di tengah krisis energi dan krisis global ini kita fondasinya amat kuat,” kata Purbaya.
Ia menilai temuan tersebut sekaligus membantah keraguan sebagian ekonom dalam negeri yang menyebut Indonesia berpotensi memasuki periode krisis seperti krisis moneter 1998. Purbaya juga menyatakan bahwa ekonom yang menyampaikan hal itu, menurutnya, belum lahir saat krisis terjadi.