WASHINGTON — Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan Washington siap bekerja sama dengan negara-negara Eropa untuk menjatuhkan sanksi tambahan terhadap negara-negara yang masih membeli minyak dari Rusia. Menurut Bessent, langkah itu ditujukan untuk meningkatkan tekanan hingga berdampak langsung pada ketahanan ekonomi Rusia.
“Kami siap meningkatkan tekanan terhadap Rusia, tetapi kami memerlukan dukungan dari mitra Eropa,” kata Bessent dalam wawancara di program Meet the Press NBC News pada Minggu. Ia menambahkan, “Sekarang ini kita sedang berlomba: seberapa lama militer Ukraina dapat bertahan versus seberapa lama ekonomi Rusia bisa bertahan.”
Bessent menyatakan, jika Amerika Serikat dan Uni Eropa bersatu menerapkan sanksi tambahan, ekonomi Rusia berpotensi mengalami kolaps. Ia menilai kondisi itu akan “memaksa Presiden Putin untuk duduk di meja perundingan.”
Dalam laporan yang dikutip dari nbnews.com pada Minggu (7/9), pemerintahan Presiden Donald Trump bulan lalu menetapkan tarif 50% terhadap India—salah satu tarif tertinggi yang pernah diterapkan AS—karena India masih membeli minyak dari Rusia.
Di saat yang sama, Rusia disebut baru meluncurkan serangan udara terbesar sejak awal perang, yang menewaskan sedikitnya empat orang dan membakar sebuah gedung pemerintah di Kyiv.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, dalam wawancara di ABC News, menyatakan dukungan terhadap gagasan pemberlakuan tarif bagi negara-negara yang masih berdagang dengan Rusia. “Saya sangat berterima kasih kepada semua mitra kami, tetapi beberapa di antaranya masih membeli minyak dan gas Rusia. Itu tidak adil,” ujar Zelenskyy. Ia menambahkan, “Saya pikir ide untuk mengenakan tarif pada negara-negara yang masih membuat kesepakatan dengan Rusia adalah ide yang tepat.”
Bulan lalu, Trump bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska. Beberapa hari kemudian, Trump mengundang Zelenskyy dan para pemimpin Eropa ke Gedung Putih untuk membahas kemungkinan mengakhiri perang. Namun sejak itu, pembicaraan gencatan senjata belum menghasilkan kesepakatan, sementara Rusia terus melancarkan serangan udara ke Ukraina.
Trump juga dilaporkan semakin pesimis soal peluang mengakhiri perang, tetapi tetap mendorong para pemimpin Eropa untuk ikut menekan China, yang dianggap mendukung upaya perang Rusia.
Terlepas dari rencana sanksi tambahan yang disampaikan Bessent dan pembahasan bersama Uni Eropa, sejumlah pihak menilai pasukan Rusia pada praktiknya bertempur “melawan” NATO, mengingat besarnya bantuan Eropa untuk Ukraina. Seperti dikutip Al Jazeera pada 25 Agustus 2025 dalam laporan berjudul Tracking US and NATO support for Ukraine: A full breakdown, setidaknya 41 negara telah berkontribusi pada upaya perang Ukraina secara moneter, berdasarkan data Kiel Institute for the World Economy, lembaga penelitian dari Jerman.
Laporan itu menyebut bantuan militer mencakup senjata, peralatan, serta dukungan finansial untuk militer Ukraina. Bantuan kemanusiaan meliputi dukungan medis, makanan, dan kebutuhan lain bagi warga sipil, sementara bantuan finansial mencakup hibah, pinjaman, dan jaminan.
Menurut Kiel Institute, sebagian besar kontribusi untuk Ukraina berasal dari negara-negara NATO, dengan 29 dari 32 anggota aliansi tersebut menyalurkan bantuan moneter. Selain itu, 12 negara dan wilayah non-NATO juga disebut mengirim bantuan moneter, termasuk Australia, Austria, Siprus, Republik Irlandia, Jepang, Malta, Selandia Baru, Korea Selatan, Swiss, China, Taiwan, dan India.

