BERITA TERKINI
Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Krisis Global: Dampak dan Strategi Mengelola Tekanan

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Krisis Global: Dampak dan Strategi Mengelola Tekanan

Krisis global—mulai dari krisis ekonomi, pandemi, hingga krisis iklim—terbukti berdampak signifikan terhadap kesehatan mental masyarakat di berbagai negara. Perubahan drastis dalam kehidupan sehari-hari kerap memunculkan ketidakpastian dan tekanan berkepanjangan, yang pada akhirnya mengganggu rasa aman serta memicu kekhawatiran berlebihan.

Dalam situasi seperti ini, menjaga kewarasan diri menjadi kebutuhan mendesak. Kondisi mental yang stabil dipandang sebagai fondasi penting agar seseorang dapat beradaptasi dan melewati masa sulit dengan lebih baik. Dampak krisis tidak hanya menyentuh aspek psikologis, tetapi juga merambah ke kesehatan fisik serta kemampuan individu untuk berfungsi secara optimal dalam kehidupan sosial.

Perubahan pada rutinitas, pekerjaan, dan interaksi sosial sering disebut sebagai pemicu utama tekanan mental. Ketika perubahan terjadi secara cepat dan berulang, sebagian orang dapat merasa tidak berdaya dan kehilangan kendali atas hidupnya.

Krisis ekonomi dan beban psikologis

Resesi ekonomi selama ini kerap dikaitkan dengan meningkatnya kasus masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan dan depresi. Ketidakstabilan finansial dapat menciptakan tekanan psikologis yang besar, terutama ketika diikuti kehilangan pekerjaan, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan ketidakpastian ekonomi secara umum.

Situasi tersebut dapat memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada, bahkan memunculkan masalah baru pada individu yang sebelumnya tidak memiliki riwayat gangguan mental. Dalam konteks kesulitan berat seperti kehilangan pekerjaan, juga disebut adanya peningkatan depresi, kecemasan, serta penyalahgunaan narkoba, yang menegaskan eratnya kaitan antara kondisi ekonomi dan kesejahteraan psikologis.

Krisis iklim, bencana, dan tekanan mental

Perubahan iklim dan bencana alam tidak hanya menimbulkan kerugian infrastruktur, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis mendalam. Pasca-bencana, individu dapat kehilangan rasa aman, koneksi sosial, bahkan identitas komunitas.

Di Indonesia, perubahan cuaca ekstrem, polusi udara, dan kerusakan lingkungan disebut berpotensi mendorong migrasi paksa serta konflik sosial. Kondisi tersebut dinilai berkontribusi pada meningkatnya gangguan kesehatan mental pada populasi terdampak. Selain itu, krisis iklim juga dapat memengaruhi kesehatan fisik, kemampuan menanam pangan, kondisi perumahan, keselamatan, dan pekerjaan—faktor-faktor yang secara kolektif menambah tekanan psikologis.

Pelajaran dari pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 menjadi contoh nyata dampak krisis global terhadap kesehatan mental secara luas. Survei WHO menunjukkan pandemi memengaruhi kesehatan mental dan meningkatkan permintaan layanan kesehatan mental di 93% negara di dunia.

Di Indonesia, penelitian menunjukkan satu dari lima orang yang terdampak pandemi mengalami kecemasan. Sementara itu, survei Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menemukan 69% responden mengalami masalah kecemasan, depresi, dan trauma akibat pandemi. Di sisi lain, dukungan sosial keluarga disebut memberikan dampak positif bagi penyintas COVID-19, membantu mengurangi kecemasan selama isolasi mandiri dan perawatan.

Strategi personal: mengelola informasi dan memperkuat dukungan sosial

Sejumlah langkah personal dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental di tengah krisis. Salah satunya dengan mengelola informasi yang masuk dan mempersempit fokus. Mengurangi paparan berita ekonomi makro atau informasi yang memicu stres, lalu memusatkan perhatian pada hal-hal yang dapat dikendalikan dalam situasi pribadi, dinilai membantu menurunkan kecemasan.

Saat menerima kabar seputar ancaman krisis atau laporan lain, seseorang juga disarankan mengamati informasi tanpa menyerapnya terlalu dalam agar tidak memicu kepanikan dan pikiran tetap jernih.

Dukungan sosial menjadi faktor krusial lainnya. Menjaga koneksi dengan teman dan keluarga, serta berbagi pengalaman dengan teman sebaya, dapat menjadi sumber kekuatan dan membantu mengurangi tekanan emosional. Dukungan keluarga juga disebut memberi rasa aman yang penting saat menghadapi situasi sulit.

Perawatan diri, adaptasi, dan bantuan profesional

Praktik perawatan diri atau self-care dipandang sebagai fondasi menjaga kesehatan mental. Meditasi dan teknik relaksasi seperti menarik napas dalam-dalam dapat membantu menenangkan emosi dan meredakan stres. Olahraga rutin juga disebut efektif meningkatkan kesehatan mental serta melawan emosi negatif seperti kecemasan, stres, dan kesedihan. Selain itu, mengekspresikan rasa syukur melalui jurnal atau refleksi harian dapat meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan.

Di tengah ketidakpastian, perencanaan dan adaptasi juga disebut penting. Konsultasi dengan penasihat keuangan dapat membantu menenangkan pikiran terkait masa depan, sementara latihan “skenario terburuk” dapat membantu menyusun langkah antisipasi. Menetapkan tujuan dan mempelajari hal baru juga dapat memberi energi dan motivasi untuk terus bergerak.

Jika masalah kesehatan mental dirasakan signifikan dan sulit diatasi sendiri, mencari bantuan profesional menjadi langkah yang disarankan. Terapi dapat membantu mengelola stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Peran komunitas dan kebijakan

Di tingkat komunitas, pemerintah dan lembaga terkait disebut dapat mengintegrasikan modul manajemen psikologis dalam seluruh siklus manajemen bencana. Pendekatan promotif seperti edukasi kesehatan mental dan pelatihan Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP) dinilai penting dilakukan pada tahap pra-bencana.

Pasca-bencana, pendampingan psikososial berkelanjutan, pemulihan rutinitas sosial, serta penciptaan ruang aman untuk anak-anak dan keluarga disebut perlu menjadi prioritas. Selain itu, transformasi pendidikan kesehatan mental di perguruan tinggi juga dinilai diperlukan untuk menghapus stigma dan membangun ekosistem empati, termasuk melalui modul manajemen stres dan regulasi emosi.

Tanda kesehatan mental terganggu dan kapan perlu bantuan

Sejumlah tanda umum yang dapat muncul saat menghadapi krisis antara lain kecemasan berlebihan, sulit tidur, mudah marah, kehilangan motivasi, dan kesulitan berkonsentrasi. Sebagian orang juga dapat merasa putus asa atau kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai. Bila kondisi ini berlangsung lama atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, dukungan dari orang terdekat maupun konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah penting untuk memulihkan kesejahteraan mental.