BERITA TERKINI
Mengenal Unsur Intrinsik Novel "Laut Bercerita" Karya Leila S. Chudori

Mengenal Unsur Intrinsik Novel "Laut Bercerita" Karya Leila S. Chudori

Novel Laut Bercerita merupakan karya Leila S. Chudori yang terbit pada 2017 dan hingga kini disebut telah dicetak ulang sekitar 48 kali. Dalam novel ini, Leila menghadirkan kisah yang dituturkan melalui sudut pandang tokoh “saya”, dengan alur campuran yang bergerak maju sekaligus kembali ke masa lalu.

Leila S. Chudori—nama lengkap Leila Salikha Chudori—lahir di Jakarta pada 12 Desember 1962. Ia dikenal sebagai penulis Indonesia yang menghasilkan cerita pendek, novel, serta skenario drama televisi. Leila menempuh pendidikan di Trent University, Kanada. Pada 1989 ia menerbitkan kumpulan cerpen Cerita Malam Terakhir yang diterjemahkan ke bahasa Jerman dengan judul Die Letzte Necht (Horlemman Verlag). Kumpulan cerpen 9 dari Nadira terbit pada 2009 melalui Kepustakaan Populer Gramedia dan memperoleh penghargaan sastra dari Badan Bahasa. Pada 2012, Leila menerbitkan novel Pulang yang kemudian diterjemahkan ke sejumlah bahasa, serta memenangkan Prosa Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2013 dan masuk daftar “75 notable translations of 2016” versi World Literature Today. Leila menetap di Jakarta bersama putrinya, Rain Chudori-Soerjoatmodjo.

Dari sisi tokoh dan penokohan, Laut Bercerita menampilkan sejumlah karakter dengan sifat yang digambarkan melalui narasi dan dialog. Daniel ditampilkan sebagai sosok cerewet, Kinan digambarkan bijaksana, sementara Gusti dan Sunu cenderung pendiam. Alex Parazon muncul sebagai tokoh yang sigap. Tokoh Biru Laut disebut memiliki kecerdasan, sedangkan Asmara Jati digambarkan pintar sekaligus berani. Figur bapak diperlihatkan pemberani, sementara ibu digambarkan tegas. Selain itu, para penculik digambarkan kejam. Ada pula Bu Sumantri yang disebut rasional, serta Pak Subroto yang tenang meski menyimpan kewaspadaan.

Alur cerita dalam novel ini menggunakan alur campuran, yakni gabungan plot progresif (maju) dan flashback (sorot balik). Cerita dibuka melalui prolog yang menggambarkan tokoh utama telah disekap selama hampir tiga bulan dan dibawa ke suatu tempat. Setelah itu, kisah bergerak ke sorot balik yang menampilkan masa mahasiswa tokoh utama, termasuk pencarian tempat aman untuk berdiskusi dan bermalam. Sepanjang cerita, perpindahan antara kilas balik dan peristiwa yang bergerak maju terus diselingi untuk membentuk rangkaian narasi.

Latar tempat yang disebut dalam analisis ini mencakup beragam lokasi, antara lain “rumah hantu” di Seyegan, Yogyakarta; kios Mas Yunus; toilet; Warung Bu Retno; Solo; Jakarta; Pasir Putih; Pelem Kecut; Bulaksumur; Blangguan; rumah Pak Subroto; rumah Bu Sumantri; ladang jagung; hingga ruang bawah yang disebut sebagai “ruang bawah, laut.”

Latar waktu yang muncul antara lain pagi, sebelum dzuhur, sore, malam hari, serta penanda waktu yang lebih spesifik seperti awal tahun 1993 dan hari Minggu sore. Sementara itu, latar suasana dibangun melalui nuansa gelisah, cemburu, khawatir, bersemangat, mencekam, mendebarkan, hingga takut, yang ditunjukkan lewat reaksi tokoh dan situasi yang mereka hadapi.

Dari sisi sudut pandang, novel ini disampaikan melalui orang pertama tokoh utama, ditandai dengan penggunaan kata “saya” yang membawa pembaca mengikuti ingatan, pengalaman pertemanan, hingga situasi penculikan yang dialami tokoh tersebut.

Tema yang disebut dalam analisis ini menyoroti kisah keluarga yang kehilangan, persahabatan yang menyisakan kekosongan, keberadaan pihak yang gemar menyiksa dan berkhianat, serta keluarga-keluarga yang mencari kejelasan makam anaknya, disertai gambaran tentang cinta yang tidak akan luntur. Adapun amanat yang ditarik adalah pesan sosial mengenai kesediaan berkorban demi masa depan yang lebih baik, agar pengalaman buruk di masa lalu tidak terulang.