Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam beberapa tahun terakhir berlangsung cepat dan mulai memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. AI kian hadir dalam kegiatan pembelajaran di sekolah maupun perguruan tinggi, serta disebut menjadi bagian penting dalam pertumbuhan teknologi pendidikan. Perubahan ini dinilai berimplikasi pada cara belajar, peran guru, hingga kesiapan keterampilan kerja manusia di masa depan.
Meski begitu, pemanfaatan teknologi pendidikan dinilai belum merata. Di tengah tuntutan era yang semakin kompetitif, masih ada lembaga pendidikan yang belum menerapkan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar. Padahal, sekolah dapat memanfaatkan aplikasi atau media yang membantu mengotomatiskan sejumlah tugas, seperti memberi umpan balik, memilih materi yang sesuai, hingga menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan siswa.
Dalam kajian mengenai AI, sejumlah ahli mendefinisikannya sebagai bidang yang memungkinkan komputer melakukan tugas-tugas tertentu yang dinilai dapat melampaui kemampuan manusia. AI juga dipahami sebagai cabang ilmu komputer yang berupaya membangun sistem yang dapat melakukan aktivitas seperti manusia, bahkan lebih baik. Pengembangan AI antara lain diarahkan untuk membantu rutinitas harian manusia melalui perangkat lunak atau robot, membuat mesin lebih “pintar”, serta membantu memecahkan persoalan kompleks.
Sejumlah manfaat AI disebut berkaitan dengan sifatnya yang tidak memihak serta dapat digunakan berulang. Namun, terdapat pula keterbatasan, antara lain sistem bekerja berdasarkan pemrograman yang telah ditetapkan sehingga tidak selalu mampu menyerap masukan di luar rancangan awalnya.
Salah satu isu yang mengemuka dalam pembahasan AI di pendidikan adalah pembelajaran mandiri. Orang tua dipandang perlu melakukan penyaringan minat dan bakat anak, sekaligus membekali keterampilan kontrol dan pemantauan terhadap proses belajar mereka sendiri. Pembelajaran mandiri didefinisikan sebagai kemampuan pelajar mengubah kapasitas mental menjadi keterampilan akademik melalui pikiran, perasaan, dan tindakan untuk mencapai tujuan.
Namun, praktik di lapangan dinilai belum sepenuhnya mendukung penguatan keterampilan ini. Meski pembelajaran mandiri disebut memberi manfaat akademis, masih banyak anak yang tidak memperoleh kesempatan cukup di sekolah untuk mengeksplorasi dan mempraktikkannya dengan dukungan guru. Di sisi lain, ketika anak memanfaatkan aplikasi pembelajaran digital informal seperti YouTube, Instagram, atau TikTok, kebebasan yang terlalu luas dapat berujung pada pembelajaran yang tidak produktif. Sekolah disebut masih cenderung memihak pada teknologi pendidikan yang formal, seperti e-book dan video animasi.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan tentang kemampuan anak mengendalikan diri saat berhadapan dengan sistem yang serba otomatis. Pemanfaatan AI dapat memberi porsi besar pada kendali pembelajaran, sehingga ada kekhawatiran anak terbiasa pada hal-hal otomatis dan peluang mengembangkan keterampilan belajar mandiri menjadi tertekan. Karena itu, peran orang tua dan guru dipandang penting untuk membekali, mengawasi, dan mengevaluasi penggunaan teknologi pendidikan agar tetap bijak dan efektif.
Pembahasan lain menyoroti posisi AI sebagai penghubung antara siswa dan guru. Pembelajaran mandiri menekankan kebebasan siswa dalam menggali dan mengolah informasi. Sementara ketika pembelajaran memanfaatkan alat digital, muncul pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab: pelajar, guru, atau alat digital itu sendiri. Alat pendidikan digital mengumpulkan banyak data tentang proses belajar, dan AI dapat memanfaatkan data tersebut untuk memahami proses pembelajaran secara lebih mendalam.
Untuk memaksimalkan dukungan AI, siswa dan guru disebut membutuhkan keterampilan yang lebih kuat. Pertama, keduanya perlu beradaptasi dengan situasi dan tugas baru seiring perubahan sosial yang semakin sering terjadi. Semakin banyak alat digital masuk ke ruang kelas, sehingga guru dan siswa perlu berkolaborasi untuk menggunakannya secara efektif.
Kedua, siswa dan guru perlu mampu berkolaborasi secara produktif dengan manusia maupun AI. Ketika siswa bekerja dengan teknologi dalam kelompok, interaksi sosial yang positif serta keterampilan pengaturan seperti perencanaan dan pemantauan dipandang menjadi kunci pembelajaran.
Ketiga, siswa dinilai membutuhkan dukungan sosio-emosional untuk menghadapi persoalan menantang. Dalam konteks ini, peran orang tua dan keluarga dianggap penting untuk membantu siswa memahami serta mengelola emosi dan motivasi. Selain itu, siswa juga perlu melakukan adaptasi skala kecil untuk mencapai kemajuan nyata, misalnya dengan berinisiatif, menetapkan tujuan, dan memantau diri saat bekerja dengan orang lain maupun dengan AI.
Dalam penerapannya, terdapat dua pendekatan penggunaan AI di lingkungan pendidikan. Pertama, pengalihan sebagian tugas guru kepada sistem AI yang bertindak sebagai tutor untuk setiap siswa, misalnya melalui sistem tutor cerdas yang menyesuaikan konten untuk tiap pembelajar. Kedua, AI diposisikan untuk menambah kecerdasan manusia, membantu kegiatan belajar mengajar agar lebih efektif dan efisien.
Beberapa contoh penerapan AI dalam pembelajaran antara lain mentor virtual, asisten suara (voice assistant), smart content, dan penerjemah presentasi (presentation translator). Mentor virtual digambarkan sebagai program yang berjalan dalam lingkungan multimedia dengan e-learning terintegrasi dan dinilai lebih berguna dibanding instruksi kelas biasa. Konsep pembelajaran interaksi seperti Learning by Asking (LBA) disebut melibatkan komponen server untuk memproses video dan menghasilkan pertanyaan yang dapat dipanggil kembali serta dikembangkan sesuai intensitas pertanyaan dan perubahan video yang diproses. Ketersediaan mentor virtual juga disebut dapat membuat kontak menjadi lebih efisien dari sisi manajerial dan keuangan.
Adapun voice assistant memungkinkan pengguna belajar tanpa harus membaca karena informasi disampaikan melalui suara. Di ruang kelas, fitur ini disebut dapat mempercepat pencarian materi tambahan dan memungkinkan siswa memperoleh informasi yang transparan dan akurat, sekaligus memberi gambaran tentang integrasi teknologi asisten suara dalam pengaturan kelas masa depan.
Untuk smart content, contoh yang disebut adalah aplikasi yang menyediakan informasi seperti cuaca, berita terbaru, alarm, hingga laporan pasar saham, serta dapat menghadirkan bahan bacaan terbaru dan pencarian informasi sesuai kebutuhan pembelajaran. Salah satu contoh yang diangkat adalah aplikasi yang membagi buku teks digital menjadi beberapa bab sehingga memudahkan siswa menemukan informasi yang dicari.
Sementara itu, presentation translator digambarkan sebagai teknologi yang membantu menjelaskan atau mempresentasikan teks dari bahasa berbeda ke bahasa yang diinginkan. Pengguna cukup mendengarkan pidato, artikel, atau buku digital tanpa perlu membaca dan menerjemahkan satu per satu, sehingga memungkinkan pemahaman ucapan atau kalimat bahasa asing dalam bahasa ibu.
Secara keseluruhan, kehadiran AI dipandang sebagai terobosan dalam teknologi pendidikan yang dapat memudahkan pembelajaran. Penggunaan teknologi secara bijak dan terkendali disebut dapat memicu akselerasi pendidikan dan menumbuhkan kemandirian pelajar. Dalam konteks ini, peran guru dinilai tetap penting, meski tidak lagi dominan, dengan tugas yang lebih spesifik dalam memberi pencerahan melalui kata kunci yang substansial. Pada saat yang sama, esensi mengajar tetap ditekankan, yakni menata moral dan perilaku pelajar. Bagi siswa, teknologi pendidikan diharapkan membantu mereka mengontrol dan memantau pembelajaran sendiri agar mampu hidup dan bekerja dengan baik di masa depan.