Perjalanan William Tanuwijaya membangun Tokopedia berangkat dari keterbatasan ekonomi hingga kemudian berkembang menjadi salah satu bagian penting dari ekosistem digital Indonesia. Kisah pendiri Tokopedia ini juga mencerminkan perubahan lanskap perdagangan daring di Tanah Air, dari fase awal yang dipenuhi keraguan hingga masuknya investasi besar dan terbentuknya perusahaan teknologi terintegrasi bernama GoTo Group.
William lahir dan besar di Pematang Siantar, Sumatera Utara, dari keluarga sederhana yang menaruh perhatian besar pada pendidikan. Setelah lulus SMA, ia merantau ke Jakarta untuk melanjutkan studi di Universitas Bina Nusantara (BINUS) dengan mengambil jurusan Teknik Informatika. Perjalanan ke Jakarta ditempuh dengan kapal laut selama empat hari tiga malam.
Memasuki tahun kedua perkuliahan, kondisi keluarga berubah ketika ayahnya jatuh sakit. Situasi tersebut mendorong William mencari pekerjaan paruh waktu agar tetap dapat membiayai kebutuhan hidup dan kuliah. Ia bekerja sebagai operator atau penjaga warnet pada shift malam, dari pukul 21.00 hingga 09.00. Dari pengalaman itu, ketertarikannya pada internet dan dunia digital semakin kuat, sekaligus menjadi salah satu titik awal terbentuknya gagasan yang kelak melahirkan Tokopedia.
Setelah lulus pada 2003, William sempat bekerja di sejumlah perusahaan teknologi. Ia pernah menjadi pengembang perangkat lunak di perusahaan pengembang software dan game, lalu berperan sebagai IT & Business Development Manager di sebuah perusahaan media. Pengalaman tersebut memberinya bekal teknis dan pemahaman bisnis yang kemudian berguna ketika merintis perusahaan sendiri.
Pada 2007, ide pendirian Tokopedia mulai matang. William melihat dua persoalan utama di Indonesia saat itu: rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap transaksi online dan terbatasnya akses pasar bagi pedagang, terutama di luar kota-kota besar. Ia ingin membangun sebuah “mall online” yang dapat digunakan siapa saja, dari mana saja di Indonesia. Untuk mewujudkan rencana itu, William menggandeng Leontinus Alpha Edison sebagai co-founder.
Tokopedia resmi diluncurkan pada 17 Agustus 2009, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia. Misi yang diusung adalah “demokratisasi perdagangan melalui teknologi” untuk mendorong pemerataan ekonomi digital. Namun pada tahap awal, tantangan datang dari berbagai sisi, termasuk kesulitan mendapatkan investor karena e-commerce dinilai belum menjanjikan, serta hambatan merekrut talenta karena banyak lulusan lebih memilih perusahaan mapan.
Setelah sekitar dua tahun berjuang, Tokopedia memperoleh pendanaan awal dan mulai mencatat pertumbuhan. Pada bulan pertama, platform ini disebut sudah menarik ratusan penjual dan ribuan anggota. Perkembangan tersebut kemudian menarik perhatian investor global. Pada 2014, Tokopedia menjadi perusahaan teknologi pertama di Asia Tenggara yang menerima investasi sebesar US$100 juta dari Sequoia Capital dan SoftBank. Pada 2017, Tokopedia kembali memperoleh investasi strategis senilai US$1,1 miliar dari Alibaba Group.
Perjalanan Tokopedia berlanjut hingga terbentuknya ekosistem yang lebih besar. Pada 2021, Tokopedia dan Gojek melakukan merger dan membentuk GoTo Group (PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk), yang mencakup layanan e-commerce, ride-hailing, dan layanan finansial. Pada 2024, William memutuskan meninggalkan dewan komisaris GOTO, menandai transisi kepemimpinan baru di perusahaan yang ikut ia bangun.
Sejumlah pengakuan turut menyertai perjalanan William. Ia terpilih sebagai Young Global Leader oleh World Economic Forum pada 2016. Ia juga menerima Satyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia atas kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi dan teknologi.
Dari sisi dampak ekonomi, Tokopedia—dan kini GoTo Group—disebut telah memberdayakan lebih dari 14 juta penjual terdaftar, dengan mayoritas berasal dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Platform ini juga menghubungkan penjual dan pembeli di lebih dari 17.000 pulau, sejalan dengan misi awal pemerataan akses ekonomi.
Kisah William kerap dibaca sebagai gambaran ketekunan dan kemampuan beradaptasi dalam membangun bisnis teknologi. Ia memulai dari pekerjaan shift malam di warnet, menghadapi penolakan investor pada fase awal, lalu mengembangkan Tokopedia hingga menjadi bagian dari ekosistem digital berskala nasional. Di sisi lain, kisah ini juga menunjukkan bagaimana sebuah platform tumbuh dengan berangkat dari upaya menjawab kebutuhan nyata masyarakat, khususnya pelaku UMKM.