BERITA TERKINI
Seruan Mojtaba Khamenei dan Gagasan Persatuan Muslim: Antara Solidaritas, Curiga, dan Realitas Politik Teluk

Seruan Mojtaba Khamenei dan Gagasan Persatuan Muslim: Antara Solidaritas, Curiga, dan Realitas Politik Teluk

Isu yang Membuat Nama Mojtaba Khamenei Menjadi Tren

Nama Mojtaba Khamenei mendadak ramai dibicarakan setelah seruannya agar negara-negara Muslim, terutama di Teluk, bersatu melawan “musuh sebenarnya.”

Pesan itu muncul pada Pekan Persatuan Islam, momen simbolik yang menandai kelahiran Nabi Muhammad SAW dan sering dipakai untuk menegaskan kembali gagasan ukhuwah.

Namun, seruan persatuan kali ini tidak hadir di ruang hampa. Ia lahir dari konflik yang masih membara, dan dari ketegangan lama Iran dengan monarki Teluk.

-000-

Ada tiga alasan mengapa isu ini cepat naik di Google Trend Indonesia.

Pertama, ia menyentuh emosi publik tentang Palestina. Khamenei mempertanyakan apakah warga Palestina akan dibiarkan “begitu tak berdaya” jika umat Muslim bersatu.

Kedua, ada unsur dramatis pada figur pengirim pesan. Ia disebut belum terlihat di depan umum sejak terluka dalam serangan udara AS-Israel enam bulan lalu.

Ketiga, pesan itu menyinggung Teluk secara langsung. Ia bertanya kepada penguasa Arab Teluk apakah “para penjahat tanpa identitas” berani mengincar tanah dan harta mereka.

-000-

Di Indonesia, isu Timur Tengah sering menjadi cermin bagi perdebatan domestik. Bukan sekadar soal geopolitik, melainkan juga soal identitas, solidaritas, dan rasa keadilan.

Karena itu, satu kalimat tentang “musuh sebenarnya” segera memantik tafsir. Publik bertanya, siapa yang dimaksud, dan apa konsekuensinya bagi kawasan.

Apa yang Disampaikan Mojtaba Khamenei

Menurut laporan Reuters, pesan itu dipublikasikan melalui akun Telegram Khamenei pada Minggu, 30 Agustus 2026.

Intinya adalah ajakan persatuan Muslim, kerja sama lintas bidang, dan pertahanan bersama. Ia menilai perpecahan di antara umat Muslim menguntungkan kepentingan musuh.

Ia juga menyatakan bahwa siapa pun yang menciptakan perpecahan, “secara sadar atau tidak sadar,” membantu musuh-musuh Islam.

-000-

Seruan itu menggemakan pernyataan sebelumnya kepada rakyat Iran. Ia mengatakan telah melarang tindakan yang merusak kohesi sosial.

Ia juga mendesak pihak berwenang menghindari “pernyataan yang mengecewakan” yang melemahkan moral nasional dan publik.

Di sini, pesan persatuan bergerak di dua level. Satu ke luar, mengarah pada negara Muslim lain. Satu ke dalam, menekankan ketertiban sosial Iran.

-000-

Namun, pesan itu tidak bisa dilepaskan dari sejarah ketegangan Iran dan Teluk. Sejak Revolusi Islam 1979, monarki Teluk memandang ideologi revolusioner Iran sebagai ancaman.

Dalam konflik saat ini, Teheran disebut telah menyerang fasilitas militer AS dan infrastruktur lain di negara-negara Teluk. Ketegangan itu kian nyata.

Karena itu, ajakan “bersatu” terdengar sekaligus sebagai undangan dan ujian. Undangan untuk merapat. Ujian bagi pihak yang selama ini menjaga jarak.

Persatuan sebagai Bahasa Moral, dan Politik sebagai Bahasa Kekuasaan

Seruan persatuan hampir selalu terdengar mulia. Ia berbicara tentang persaudaraan, keselamatan, dan kepentingan bersama.

Namun, dalam geopolitik, kata “persatuan” juga bisa berfungsi sebagai alat framing. Ia mengarahkan emosi kolektif pada satu definisi ancaman.

-000-

Dalam pesan Khamenei, “musuh sebenarnya” tidak dijelaskan secara rinci. Kekosongan ini membuat pesan lentur dan mudah diadopsi oleh banyak tafsir.

Kelenturan itu menguntungkan penyebar pesan, karena audiens dari latar berbeda bisa mengisi sendiri siapa musuh yang dimaksud.

Tetapi kelenturan juga berisiko. Ia membuka ruang kecurigaan, terutama bagi negara yang pernah mengalami tekanan, retorika, atau konflik kepentingan dengan Iran.

-000-

Seruan itu juga memusatkan perhatian pada Palestina sebagai ukuran moral persatuan. Pertanyaannya mengandung tekanan etis.

Jika Palestina tetap lemah, maka umat dianggap belum bersatu. Dengan demikian, persatuan bukan sekadar pilihan politik, melainkan tuntutan moral.

Di titik ini, bahasa moral dan bahasa kekuasaan saling bertaut. Solidaritas menjadi panggilan hati, sekaligus instrumen legitimasi.

Riset yang Relevan: Mengapa Seruan Persatuan Mudah Menyebar

Riset komunikasi politik menunjukkan bahwa pesan yang menekankan ancaman bersama cenderung memperkuat identitas kelompok.

Dalam teori identitas sosial, ancaman eksternal sering membuat batas “kita” dan “mereka” menjadi lebih tegas. Ini memudahkan mobilisasi dukungan.

-000-

Riset tentang propaganda dan framing juga menekankan pentingnya narasi sederhana. “Bersatu melawan musuh” adalah struktur cerita yang mudah dipahami.

Apalagi ketika disandingkan dengan isu kemanusiaan. Penderitaan sipil sering menjadi katalis yang mempercepat penyebaran pesan lintas negara.

Namun, studi resolusi konflik mengingatkan bahwa seruan persatuan tanpa kejelasan mekanisme bisa berubah menjadi slogan.

Slogan membangkitkan emosi, tetapi tidak otomatis menghasilkan koordinasi. Negara memiliki kepentingan, aliansi, dan kalkulasi keamanan yang berbeda.

-000-

Di kawasan Teluk, kalkulasi keamanan sangat sensitif. Ada sejarah panjang saling curiga antara Iran dan beberapa monarki Teluk.

Ketika Teheran disebut menyerang infrastruktur di negara Teluk, seruan persatuan akan menghadapi pertanyaan praktis tentang rasa aman.

Riset keamanan regional sering menekankan dilema keamanan. Upaya satu pihak meningkatkan keamanan dapat dibaca pihak lain sebagai ancaman.

Dalam dilema itu, “persatuan” harus bersaing dengan kebutuhan dasar negara: stabilitas rezim, keamanan teritorial, dan kelangsungan ekonomi.

Rujukan Luar Negeri: Ketika Persatuan Agama Berhadapan dengan Politik Kawasan

Di luar Timur Tengah, dunia pernah menyaksikan seruan persatuan berbasis identitas yang menabrak realitas kepentingan negara.

Salah satu rujukan yang sering dibahas adalah dinamika Pan-Arabisme pada era Gamal Abdel Nasser. Seruan kesatuan Arab menggema luas.

-000-

Namun, kesatuan itu berulang kali diuji oleh rivalitas kekuasaan dan perbedaan orientasi kebijakan. Persatuan sebagai ide besar tidak selalu stabil sebagai proyek politik.

Rujukan lain adalah konflik Balkan pada 1990-an. Identitas kolektif dipakai untuk menggalang dukungan, tetapi juga memicu polarisasi dan kekerasan.

Pelajarannya bukan untuk menyamakan konteks. Melainkan untuk memahami bahwa identitas bisa menyatukan, sekaligus memecah, tergantung cara ia dipakai.

-000-

Di banyak kawasan, seruan “musuh bersama” kerap menguat saat ketidakpastian meningkat. Ia menjadi pegangan psikologis ketika masa depan terasa rapuh.

Karena itu, publik global sering merespons seruan seperti ini dengan dua emosi sekaligus. Harapan akan solidaritas, dan takut akan eskalasi.

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia

Bagi Indonesia, isu ini terkait dengan dua hal besar: solidaritas kemanusiaan dan prinsip politik luar negeri bebas aktif.

Solidaritas terhadap Palestina adalah arus kuat dalam opini publik. Ia hadir dalam aksi, bantuan, doa, dan perdebatan kebijakan.

-000-

Namun, bebas aktif menuntut kehati-hatian. Indonesia berupaya berperan dalam perdamaian, tanpa terseret menjadi bagian dari blok yang memperdalam konflik.

Seruan persatuan yang dibingkai sebagai “melawan musuh” berpotensi mendorong polarisasi. Di dalam negeri, polarisasi sering menyederhanakan masalah kompleks.

Padahal, kepentingan Indonesia adalah stabilitas kawasan dan perlindungan warga negara di luar negeri, termasuk di Timur Tengah.

-000-

Ada juga isu besar lain: literasi informasi. Pesan politik lintas negara kini menyebar cepat melalui platform seperti Telegram.

Kecepatan sering mengalahkan verifikasi. Potongan pesan mudah menjadi bahan propaganda, atau justru bahan kebencian, jika konteksnya hilang.

Indonesia berkepentingan menjaga ruang publik tetap rasional. Simpati kemanusiaan perlu berjalan bersama ketelitian informasi.

Membaca Seruan Ini Secara Lebih Jernih

Seruan Khamenei menekankan bahwa perpecahan menguntungkan musuh. Kalimat ini menggugah, karena ia menempatkan persatuan sebagai kewajiban moral.

Tetapi pertanyaan jernih tetap perlu diajukan. Persatuan seperti apa, dan untuk tujuan apa.

-000-

Jika persatuan dimaknai sebagai kerja sama kemanusiaan, ia bisa memperkuat bantuan bagi korban konflik dan memperbesar tekanan diplomatik untuk perlindungan sipil.

Jika persatuan dimaknai sebagai blok militer, ia berisiko memperluas perang. Apalagi ketika kawasan sudah memuat banyak kepentingan dan pangkalan kekuatan.

Karena itu, respons publik sebaiknya tidak berhenti pada tepuk tangan atau penolakan. Ia perlu membedakan solidaritas kemanusiaan dari logika eskalasi.

-000-

Di sisi lain, seruan itu menyasar penguasa Teluk dengan kalimat yang tajam. Ini menandakan bahwa persatuan yang diminta juga mengandung kritik.

Kritik bisa menjadi pintu dialog, tetapi juga bisa menjadi pemicu defensif. Dalam diplomasi, nada sering sama pentingnya dengan isi.

Jika tujuan akhirnya adalah meredakan penderitaan Palestina, maka jalur yang ditempuh perlu memperhitungkan kemungkinan reaksi balik.

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik Indonesia perlu menempatkan isu ini dalam kerangka kemanusiaan. Fokus utama adalah perlindungan warga sipil dan akses bantuan.

Seruan persatuan dapat didukung sejauh ia memperkuat langkah damai dan bantuan, bukan memperlebar permusuhan.

-000-

Kedua, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu menjaga konsistensi bebas aktif. Indonesia bisa mendorong diplomasi, tanpa mengunci diri pada satu narasi blok.

Konsistensi ini penting untuk kredibilitas. Dalam konflik panjang, kredibilitas sering menjadi modal diplomatik yang paling langka.

-000-

Ketiga, media dan masyarakat sipil perlu mengedepankan literasi konteks. Pesan Telegram, kutipan, dan video singkat harus dibaca bersama latar sejarah dan dinamika kawasan.

Perdebatan yang sehat menuntut disiplin. Menahan diri dari generalisasi, dan menolak dorongan untuk menempelkan label pada kelompok yang beragam.

-000-

Keempat, ruang publik perlu menghindari politik kebencian. Persatuan yang dibangun di atas amarah sering rapuh, dan mudah berubah menjadi konflik internal.

Indonesia punya pengalaman bahwa kohesi sosial adalah aset nasional. Ia harus dijaga, terutama saat isu global memanas.

-000-

Pada akhirnya, seruan Mojtaba Khamenei adalah peristiwa komunikasi politik yang kuat. Ia menggabungkan momen religius, luka konflik, dan tuntutan solidaritas.

Namun, masa depan kawasan tidak ditentukan oleh seruan saja. Ia ditentukan oleh keputusan, konsekuensi, dan kemampuan menahan diri dari spiral balas dendam.

-000-

Indonesia dapat mengambil pelajaran yang lebih luas. Bahwa persatuan paling sulit justru ketika emosi memuncak, dan ketika musuh didefinisikan terlalu mudah.

Di saat seperti itu, kebijaksanaan adalah kemampuan memelihara nurani tanpa kehilangan nalar.

“Kekuatan terbesar bukanlah mengalahkan lawan, melainkan menaklukkan diri sendiri.”