BERITA TERKINI
Krisis Energi Global Memburuk, Asia Paling Terpukul dan Eropa Berisiko Kekurangan Pasokan pada April

Krisis Energi Global Memburuk, Asia Paling Terpukul dan Eropa Berisiko Kekurangan Pasokan pada April

Krisis energi global kian memburuk di tengah langkah darurat sejumlah pemerintah yang dinilai belum mampu menutup kekurangan pasokan minyak dan gas. Situasi ini dipicu perang AS-Israel melawan Iran yang mengganggu distribusi energi dunia.

Menurut laporan Reuters, para eksekutif industri dan menteri energi memperingatkan dunia saat ini kehilangan hingga 20 juta barel minyak per hari akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah. Gangguan tersebut terutama terjadi setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global.

Dampaknya langsung terasa pada kenaikan harga energi, pupuk, dan produk petrokimia yang melonjak tajam, sekaligus mulai menekan rantai pasok global. Kenaikan harga energi juga merembet ke sektor lain, termasuk penerbangan. Maskapai disebut mempertimbangkan kenaikan harga tiket hingga 20%.

Di Asia, Filipina telah menetapkan status darurat energi nasional. Kawasan ini dinilai menjadi yang paling terdampak karena ketergantungan tinggi pada pasokan energi dari Timur Tengah. Sejumlah pejabat memperkirakan, bila kondisi berlanjut, krisis akan menyebar ke Eropa mulai April.

Berbagai langkah darurat telah ditempuh pemerintah di berbagai negara, antara lain melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis, melonggarkan sanksi AS terhadap sebagian minyak Iran dan Rusia, serta mengalihkan jalur distribusi untuk menghindari Selat Hormuz. Namun, CEO Kuwait Petroleum menilai langkah-langkah tersebut belum memadai. Ia menyebut upaya yang dilakukan bahkan belum bisa disebut sebagai penanganan darurat.

Jepang, misalnya, telah melepas sekitar 80 juta barel dari cadangan strategisnya. Meski demikian, negara itu disebut hanya memiliki cadangan gas untuk sekitar tiga minggu ke depan.

Risiko kekurangan pasokan di Eropa juga menjadi perhatian. Menteri ekonomi Jerman dan CEO Shell Wael Sawan memperingatkan Eropa dapat mulai mengalami kekurangan energi pada April apabila perang terus berlanjut. Sawan menilai banyak negara masih bersikap reaktif, bukan preventif, padahal strategi energi yang kuat perlu dibangun untuk jangka panjang, bukan sekadar respons saat krisis.

Di sisi pasokan, peningkatan produksi dinilai tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. CEO ConocoPhillips mengatakan produksi minyak AS sulit meningkat signifikan sebelum 2027 karena perusahaan telah menjalankan rencana investasi yang tidak mudah diubah. Sementara itu, produsen LNG AS disebut sudah beroperasi pada kapasitas maksimal sehingga tidak mampu menutup kekurangan pasokan dari Timur Tengah.