BERITA TERKINI
Korea Selatan Perketat Rotasi Kendaraan Sektor Publik untuk Antisipasi Gangguan Pasokan Minyak

Korea Selatan Perketat Rotasi Kendaraan Sektor Publik untuk Antisipasi Gangguan Pasokan Minyak

Korea Selatan akan memperketat penerapan sistem rotasi kendaraan wajib lima hari di sektor publik sebagai respons atas potensi gangguan pasokan minyak di tengah permusuhan yang berlanjut di Timur Tengah. Kebijakan itu dilaporkan media lokal pada Selasa, 24 Maret 2026.

Pemerintah disebut akan meningkatkan pengawasan kepatuhan terhadap pembatasan berdasarkan nomor pelat kendaraan. Mobil akan dibagi menjadi lima kelompok menurut digit terakhir pelat, dan setiap kelompok dilarang beroperasi pada hari kerja tertentu.

Kendaraan listrik dan berbahan bakar hidrogen dikecualikan dari pembatasan tersebut. Sistem rotasi ini sebenarnya sudah ada, namun sebelumnya diterapkan secara longgar.

Sekitar 1,5 juta kendaraan diperkirakan akan terdampak pengetatan aturan. Langkah ini ditargetkan dapat menghemat sekitar 3.000 barel minyak mentah per hari.

Secara keseluruhan, konsumsi minyak mentah harian Korea Selatan berada di kisaran 2,8 juta barel, dengan sekitar separuhnya digunakan untuk kebutuhan transportasi.

Selain kebijakan rotasi kendaraan, pemerintah juga akan melonggarkan pembatasan operasional pembangkit listrik tenaga batu bara pada hari-hari dengan tingkat debu halus yang rendah. Pemerintah juga mendorong lima reaktor nuklir yang sedang dalam perawatan agar segera kembali beroperasi, sebagai bagian dari upaya menekan konsumsi gas alam cair (LNG) yang turut terdampak konflik di Timur Tengah.

Dalam perkembangan terpisah, Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun pada Selasa melakukan panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr bin Hamad Al Busaidi untuk meminta bantuan Oman dalam pengadaan LNG dan minyak mentah bagi Seoul.

Komunikasi itu berlangsung sehari setelah Cho mendesak Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi agar memastikan keamanan navigasi melalui Selat Hormuz.

Eskalasi di Timur Tengah berlanjut sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.

Iran kemudian membalas melalui serangan drone dan rudal berulang yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Selat Hormuz juga dilaporkan secara efektif terhambat sejak awal Maret. Dalam kondisi normal, sekitar 20 juta barel minyak melintasi selat tersebut setiap hari. Gangguan ini meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong kenaikan harga minyak global.