Isu krisis ekologi global menjadi sorotan dalam kegiatan Bedah Majalah Tebuireng Internasional edisi Tobat Ekologis yang digelar di Aula SMA AWH, Sabtu (9/5/2026). Kegiatan ini menghadirkan Konsultan Pembangunan di Jepang, Arvin Patria Mudranta Putra, sebagai pembicara utama dan diikuti sekitar 66 perwakilan siswa yang tergabung dalam organisasi Hipampala.
Dalam pemaparannya, Arvin menekankan bahwa persoalan ekologi kini menjadi isu global yang terus dibicarakan dan diperkirakan semakin terkait dengan geopolitik, ekonomi, hingga ancaman cuaca ekstrem dalam beberapa tahun mendatang. Ia juga menegaskan bahwa kerusakan lingkungan dan runtuhnya ekosistem bukan lagi ancaman masa depan, melainkan persoalan nyata yang harus dihadapi sejak sekarang.
Menurut Arvin, kesadaran ekologis perlu menjadi bagian dari cara hidup, terutama bagi generasi muda. Ia menilai pembahasan mengenai ekologi tidak cukup hanya menjadi wacana sesaat, melainkan harus dibawa dalam praktik kehidupan dalam jangka panjang. Arvin turut mengapresiasi terbitnya Majalah Tebuireng yang mengangkat persoalan ekologi.
Dalam kesempatan itu, Arvin membagikan pengalamannya sebagai teknisi sekaligus konsultan dalam berbagai kegiatan terkait ekologi di Jepang. Salah satu yang ia soroti adalah pendidikan kebencanaan bagi pemagang asal Indonesia yang bekerja di Jepang. Menurutnya, sebelum mulai bekerja, para pemagang biasanya mendapat pemahaman mengenai mitigasi bencana, mengingat Jepang merupakan negara yang akrab dengan risiko gempa bumi dan bencana alam lainnya.
Arvin juga mengulas perjalanan Jepang pasca-Perang Dunia II hingga bangkit menjadi negara maju dengan teknologi yang berkembang pesat. Ia menyebut kemajuan teknologi Jepang tidak hanya difokuskan pada industri dan ekonomi, tetapi juga pada mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan.
Ia menyinggung tragedi penyakit Minamata akibat pencemaran lingkungan oleh limbah industri sebagai pelajaran penting tentang dampak besar kerusakan lingkungan yang dipicu aktivitas manusia. Selain itu, Arvin menjelaskan sejumlah strategi masyarakat Jepang dalam menjaga lingkungan, termasuk upaya mengurangi efek rumah kaca dan pengendalian emisi karbon.
Salah satu contoh yang menarik perhatian peserta adalah sistem pengelolaan sampah di Jepang yang dinilai disiplin dan ketat. Arvin menjelaskan bahwa masyarakat harus membayar untuk membuang sampah, memisahkan jenis sampah secara rinci, serta mengikuti jadwal pembuangan yang ditetapkan pemerintah lokal. Ia juga menyebut di banyak tempat umum tempat sampah justru tidak disediakan agar masyarakat bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri.
Selain pengelolaan sampah, Arvin menilai kebiasaan merawat barang agar usia pakainya lebih lama turut membantu mengurangi konsumsi berlebihan dan menekan produksi limbah. Ia juga menekankan pentingnya pendidikan kebencanaan sejak dini sebagai bentuk ikhtiar menghadapi risiko alam.
Kepada para santri, Arvin mengajak untuk mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan melalui kebiasaan sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, membawa pulang sampah sendiri, serta merawat barang yang dimiliki. Menurutnya, konsep tobat ekologis tidak hanya berbicara tentang menjaga alam, tetapi juga perubahan gaya hidup dan kesadaran moral manusia terhadap lingkungan.
Ia menambahkan, di Jepang kampanye pengurangan emisi karbon dilakukan melalui langkah-langkah sederhana, seperti anjuran kepada pegawai perusahaan agar tidak mengenakan jas berlapis saat musim panas dan cukup memakai kemeja untuk menghemat energi pendingin ruangan. Masyarakat juga didorong melakukan refleksi diri dengan menghitung serta mengoleksi data emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas harian.
Arvin menilai seluruh agama pada dasarnya mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan. Ia juga menyebut budaya disiplin ekologis di Jepang sebagai hal yang patut dipelajari. “Kita belajar dari Jepang yang mungkin banyak tidak beragama, tetapi perilakunya sangat islami, terutama dalam persoalan menjaga lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SMA AWH, Djoko Suwono, dalam nasihat penutup mengajak para siswa mengamalkan ilmu yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Ia mendorong siswa untuk menjaga lingkungan dan menjaga lisan, serta menjadi pelopor perjuangan sebagai pejuang lingkungan dari Pesantren Tebuireng.